Bisnis.com, JAKARTA – Platform layanan pinjaman digital, KrediOne, berkolaborasi dengan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menggenjot literasi keuangan khususnya layanan pindar di generasi muda.
Direktur Utama KrediOne Kuseryansyah menjelaskan bahwa literasi keuangan kini menjadi salah satu faktor kunci agar masyarakat dapat memanfaatkan akses keuangan secara optimal. Menurutnya, literasi keuangan saat ini tidak hanya pemahaman tetapi kompetensi strategis.
“Di tengah percepatan inovasi finansial, kemampuan membaca peluang sekaligus mengelola risiko secara terukur menjadi pembeda antara akses yang memberdayakan dan yang justru menimbulkan kerentanan,” ujarnya dalam siaran pers yang dikutip, Minggu (12/4/2026).
Akses layanan keuangan digital yang makin luas, lanjut dia, membuat kualitas pengambilan keputusan menjadi elemen krusial yang menentukan dampak dari akses tersebut.
“Akses keuangan tanpa literasi adalah pedang bermata dua. Karena itu, setiap keputusan finansial harus diambil secara sadar, terukur, dan bertanggung jawab,” imbuhnya.
Dia menyebut peran industri pindar tidak hanya sebatas menyediakan akses pembiayaan, tetapi juga membangun ekosistem keuangan yang berkelanjutan. Dengan demikian, transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan konsumen adalah fondasi utama.
Baca Juga
- Tingkat Kredit Macet Pinjol Naik ke 4,38%, AFPI Blak-blakan Penyebabnya
- AFPI Optimistis Pinjol untuk Modal kerja Meningkat saat Ramadan 2026
- AFPI Siapkan Strategi Ini untuk Lawan Kelompok Gagal Bayar pada 2026
“Melalui edukasi berkelanjutan, kami ingin memastikan pertumbuhan industri berjalan selaras dengan peningkatan kualitas pemahaman masyarakat,” ujarnya.
Sejalan dengan komitmen, KrediOne mendorong literasi keuangan generasi muda melalui partisipasi dalam program edukasi “Pindar Mengajar: Cerdas Mengelola, Bijak Bertransaksi” yang diselenggarakan oleh AFPI di Universitas Riau pada 8 April 2026. Kegiatan yang diikuti lebih dari 200 mahasiswa Universitas Riau ini merupakan kolaborasi antara AFPI, Universitas Riau, serta pelaku industri pindar.
Adapun, program ini memberikan pemahaman komprehensif kepada mahasiswa mengenai perkembangan industri keuangan digital, khususnya layanan Pindar, termasuk manfaat, potensi risiko, serta perbedaannya dengan praktik pinjaman online ilegal.





