REPUBLIKA.CO.ID, Teheran -- Warga Iran mulai kembali bekerja pada pekan ini seiring jeda pertempuran yang memberikan waktu sementara dari serangan Amerika Serikat dan Israel. Namun, prospek ekonomi masih suram bagi sebagian besar masyarakat.
Di jaringan lorong sempit, bengkel, dan gudang di Grand Bazaar Teheran, pusat perdagangan ibu kota, lebih banyak toko buka dan beroperasi lebih lama pada Sabtu, hari pertama pekan kerja, dibandingkan sebelum gencatan senjata yang diumumkan pada Rabu.
Baca Juga
Iran Tegaskan akan Cegah Kapal Perang Melintasi Selat Hormuz
Negosiasi 14 Jam AS-Iran di Pakistan Setop Sementara, Kedua Pihak Masih Bersilang Paham
Eks Dubes Inggris: Israel akan Coba Gagalkan Gencatan Senjata Iran-AS
Meski demikian, penjualan tetap lesu dibandingkan periode sebelum perang, menurut para pedagang.
“Ini hampir stagnasi total,” kata seorang pedagang di bagian bazar yang menjual barang logam, alat, dan perlengkapan industri ringan, dilansir Aljazeera, Ahad (12/4/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Kami menerima daftar harga baru dari pemasok hari ini, semuanya sekitar 20–30 persen lebih mahal dibandingkan akhir Januari,” ujarnya, seraya menambahkan ketidakpastian kapan dan bagaimana barang baru dapat diimpor akibat perang.
Harga pada Januari, lanjutnya, juga telah mengalami kenaikan signifikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya karena terdampak inflasi tinggi yang memburuk setelah gelombang protes nasional. Dalam periode tersebut, ribuan orang dilaporkan tewas dan pemerintah memberlakukan pemadaman internet hampir total selama 20 hari.
Ranger Pakistan berpatroli di jalan sebagai pengamanan menjelang pembicaraan damai antara Iran dan AS, di Hyderabad, Pakistan, 10 April 2026. - (EPA/NADEEM KHAWAR)