jpnn.com, JAKARTA - Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah bersama mitra mengambil langkah konkret dalam mendorong pemulihan gizi masyarakat di daerah yang terdampak bencana lewat edukasi bagi kader dan sukarelawan.
Indonesia merupakan salah satu negara paling rawan bencana di dunia, menempati peringkat kedua tertinggi menurut World Risk Report 2023 dan peringkat ke-3 menurut data 2025.
BACA JUGA: KNPI: MBG Bukan Hanya Perbaikan Gizi, tapi Menjaga Ketahanan Bangsa
Posisi geografis di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif dan jalur Ring of Fire menyebabkan tingginya risiko gempa bumi, tsunami, dan erupsi gunung berapi, serta bencana hidrometeorologis seperti banjir dan longsor
Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), H. Budi Setiawan, S.T., menyampaikan upaya itu dilakukan sebagai respons atas meningkatnya kerentanan gizi, terutama pada kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, dan lansia, yang kerap muncul pascabencana.
BACA JUGA: Sedekah Pendidikan Jadi Upaya Pemulihan Sekolah Terdampak Bencana
“Melalui kegiatan ini, kader dan sukarelawan dibekali pengetahuan serta keterampilan praktis guna memastikan pemenuhan gizi masyarakat tetap terjaga selama masa pemulihan,” ungkap Budi, Sabtu (11/4).
Kegiatan tersebut dihadiri oleh puluhan kader dari kabupaten Aceh Tamiang (Aceh), Langkat (Sumatera Utara) dan Agam (Sumatera Barat), serta para mitra seperti Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan Rangkul Foundation yang digagas Zaskia Adya Mecca.
Budi menegaskan bantuan bagi korban bencana harus disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi yang tepat.
Pemberian asupan yang salah, seperti kental manis, justru berisiko memperburuk kondisi kesehatan mereka.
“Kelompok rentan yang setiap harinya diberikan asupan instan seperti kental manis dapat mengalami gangguan kesehatan yang serius di masa mendatang,” ujar Budi dalam kesempatan tersebut.
Hal senada disampaikan oleh Guru Besar Universitas Muhammadiyah Jakarta, Prof. Dr. Tria Astika Endah Permatasari, S.K.M., M.K.M.
Prof Tria, menyebutkan bahwa konsumsi produk tinggi gula secara berulang dapat merusak pola makan alami anak.
“Kandungan gula yang mencapai 5–10 gram per 100 ml dalam sekali minum kental manis seduh sudah sangat berisiko bagi tubuh,” jelas Tria.
Dia juga mengingatkan kental manis sering menjadi pilihan praktis di lokasi bencana karena mudah didapat dan disajikan.
Namun, justru di situasi pasca-bencana itulah kewaspadaan terhadap nutrisi balita harus ditingkatkan agar tidak menimbulkan masalah kesehatan baru di pengungsian.
Sejalan dengan hal itu, Rektor Universitas Aisyiyah sekaligus Ketua Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., menekankan bahwa gizi sering kali menjadi hal yang terlupakan dalam penanganan bencana. Padahal, gizi adalah kunci utama pemulihan para penyintas.
"Melalui kolaborasi YAICI, Makes PP Aisyiyah, dan Rangkul Foundation, para kader dan sukarelawan kini dibekali panduan penanganan gizi anak pasca-bencana. Ini adalah langkah nyata untuk kesehatan masyarakat," tegas Dr. Warsiti.
Di tengah bantuan yang mulai surut, kolaborasi antara YAICI, Makes PP 'Aisyiyah, dan Rangkul Foundation berkomitmen untuk tetap hadir, tidak hanya memberikan edukasi gizi bagi ibu, tetapi juga program trauma healing bagi anak-anak.
Zaskia Adya Mecca, public figure yang kini lebih banyak berkecimpung di dunia kerelawanan melalui Rangkul Foundation yang diinisiasinya mengingatkan, bekerja di daerah bencana bukan hanya sekedar menyalurkan donasi.
“Masyarakat Indonesia termasuk yang cepat dalam mengumpulkan donasi. Yang sulit itu adalah bagaimana menyalurkannya, bagaimana agar tepat untuk membantu kehidupan masyarakat korban bencana,” ujar Zaskia.(mcr10/jpnn)
Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul




