Tak Hanya Jakpus, Operasi Tangkap Sapu-sapu Diperluas ke Seluruh Wilayah Jakarta

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan operasi penangkapan ikan sapu-sapu akan diperluas ke seluruh wilayah Jakarta, tidak hanya terfokus di Jakarta Pusat.

Langkah ini dilakukan menyusul temuan masih adanya sisa populasi ikan tersebut di sejumlah titik, termasuk di depan mal di kawasan Bundaran HI yang telah dilaksanakan penangkapan.

Pramono mengatakan, operasi yang telah dilakukan sebelumnya memang belum bisa menuntaskan seluruh populasi ikan sapu-sapu dalam waktu singkat. Namun, ia menilai upaya tersebut sudah memberikan dampak positif.

"Jadi kemarin memang sudah cukup banyak, tapi nggak mungkin langsung bisa selesai. Tetapi ini menurut saya merupakan sesuatu yang bermanfaat dan memberikan kontribusi positif,” ujar Pramono di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (22/4).

Ia menjelaskan, keberadaan ikan sapu-sapu menjadi ancaman serius bagi ekosistem perairan. Selain merusak tanggul lingkungan, ikan tersebut juga bersifat predator yang menghabiskan sumber makanan bagi ikan lokal.

"Memang ikan sapu-sapu ini merusak terutama tanggul lingkungan dan juga menjadi predator karena semua makanan bagi ikan yang lain dihabisin,” tutur Pramono.

“Sehingga wader dan ikan-ikan lain yang merupakan ikan lokal itu kalau tidak dilakukan segera penangkapan dan juga mengurangi jumlah ikan sapu-sapu ini pasti ini akan berpengaruh pada kita,” sambung dia.

Karena itu, Pemprov DKI akan memperluas operasi penangkapan ke wilayah lain yang memiliki populasi ikan sapu-sapu tinggi.

"Maka saya akan meminta tidak hanya di Jakarta Pusat, di semua wilayah yang ikan sapu-sapunya banyak untuk kita adakan operasi. Jadi kita mulai apa yang di PI (Plaza Indonesia) kemarin sebagai awal,” katanya.

Kata Ahli Ikan IPB

Ahli Ikan dan Konservasi Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Charles P. H. Simanjuntak, Ph.D., mengatakan ikan sapu-sapu atau dikenal juga dengan nama umum Amazon sailfin catfish (Pterygoplichthys pardalis), adalah ikan asing introduksi yang mampu berkembang dengan sangat pesat.

"Ikan sapu-sapu termasuk “a breeding machine” karena memiliki fekunditas (jumlah telur) yang sangat tinggi, bisa mencapai 19,000 telur per satu ekor ikan betina; mereka mampu bereproduksi beberapa kali dalam satu tahun; satu ekor ikan jantan dapat membuahi dua ekor ikan betina; ikan jantan menjaga telur (parental care) di dalam liang yang mereka gali sampai menetas sehingga sintasan bisa mencapai lebih dari 90%; mampu bereproduksi pada ukuran yang masih kecil (23,9–28,99 cm untuk jantan; dan 13,0–25,98 cm untuk betina), sehingga mempercepat siklus infasi," jelas Charles dalam keterangan tertulisnya.

Ikan sapu-sapu termasuk ikan omnivora atau pemakan segala dan memiliki kelenturan (plasticity) dalam memanfaatkan berbagai jenis makanan yang ada di perairan.

Menurutnya tidak ada predator alami yang mengendalikan populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai di Jakarta, termasuk di Sungai Ciliwung. Di habitat asalnya, di Sungai Amazon, Amerika Selatan, predator alami ikan sapu-sapu adalah ikan Common Snook (Centropomus undecimalis), ikan Tarpon (Megalops atlanticus), buaya Spectacled Caiman (Caiman crocodilus), dan burung Neotropic Cormorant (Phalacrocorax brasilianus).

"Tidak adanya predator spesifik dan efektif di ekosistem non-asli, seperti Sungai Ciliwung di Jakarta, adalah alasan utama mengapa ikan sapu-sapu menjadi spesies asing invasif yang begitu sukses dan sulit untuk dikendalikan," jelasnya.

Mampu Hidup di Lingkungan Tercemar

Ikan ini juga mampu hidup di lingkungan tercemar yang berpotensi mengandung logam berat berbahaya, terutama timbal.

Ia menambahkan bahwa ikan sapu-sapu telah terbukti mengakumulasi logam berat ini di dalam daging yang secara langsung berkorelasi dengan tingginya tingkat pencemaran di sungai.

Alih-alih mati keracunan, ikan invasif ini justru menyerap racun-racun tersebut ke dalam jaringan tubuhnya. Bahaya laten inilah yang akan berpindah ke tubuh manusia jika ikan tersebut dijadikan lauk-pauk.

Menurut Charles, akumulasi logam berat pada ikan sapu-sapu dapat menimbulkan risiko langsung bagi kesehatan manusia jika dikonsumsi terus-menerus.

"Logam-logam ini dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, termasuk kerusakan neurologis, disfungsi ginjal, dan peningkatan risiko kanker, khususnya pada anak-anak dan ibu hamil," kata dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Negosiasi AS-Iran Buntu, Vance Klaim Kegagalan Kesepakatan Lebih Merugikan Teheran
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Tembus Medan Curam dan Sungai Berbatu, Satgas Damai Cartenz Patroli Taktis di Sinak Papua
• 4 jam lalurctiplus.com
thumb
Iran Sebut Gagalnya Perundingan dengan AS di Pakistan Hal Wajar
• 11 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Museum MH Thamrin Direvitalisasi Jadi Pusat Edukasi
• 22 jam lalurepublika.co.id
thumb
Peran Sentral Ajudan Bupati Tulungagung, Tagih Setoran Hingga 3 Kali Seminggu
• 10 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.