jpnn.com, JAKARTA - Aktivis Yulian Paonganan atau Ongen melontarkan kritik tajam kepada sejumlah tokoh yang belakangan vokal mengkritik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Pernyataan tersebut disampaikan Ongen melalui akun media sosial X (Twitter) pribadinya, @ongen_id, pada Minggu (12/4/2026).
BACA JUGA: Ongen Sebut Seruan Jatuhkan Pemerintah Bukan Kritik Demokrasi, Tetapi Makar
Dalam unggahannya, Ongen menyoroti sejumlah nama seperti Feri Amsari, Saiful Mujani, dan Said Didu yang dinilai kerap membawa narasi Reformasi 1998 dalam kritik politik saat ini.
Da menilai penggunaan narasi tersebut tidak tepat jika tidak disertai pemahaman mendalam terhadap proses sejarah yang terjadi saat itu.
BACA JUGA: Ongen Ingatkan Risiko Banjir Berulang Jika Hulu Tak Dibenahi
Menurut Ongen, Reformasi 1998 merupakan peristiwa panjang yang tidak terjadi secara tiba-tiba.
“Reformasi 1998 itu bukan ujug-ujug pidato halal bihalal lalu tiba-tiba mahasiswa dan rakyat turun ke jalan. Itu butuh proses panjang sejak akhir 1980-an,” tulis Ongen.
BACA JUGA: Ongen Desak Pemprov Tindak Tegas Gedung Tanpa SLF
Ongen juga menyindir pihak-pihak yang dianggapnya tidak terlibat langsung dalam gerakan reformasi, namun kini merasa paling memahami dinamika perjuangan tersebut.
Dia mengatakan bahwa ada pihak yang baru belakangan mengklaim diri sebagai bagian dari semangat reformasi.
Selain itu, Ongen menyinggung perubahan sikap sejumlah pengkritik yang pada masa lalu dinilai memiliki pandangan politik berbeda.
Dia menyebut, sebagian pihak yang kini mengkritik Prabowo sebelumnya pernah mengkritik Joko Widodo dan cenderung mendukung Prabowo dalam pemilihan presiden 2014 dan 2019.
“Dahulu para pengkritik Prabowo ini menghujat Jokowi dan cenderung berharap Prabowo menang pada 2014 dan 2019. Ketika Prabowo menang 2024, baru satu setengah tahun sudah dihujat,” tulisnya.
Di akhir pernyataannya, Ongen mempertanyakan arah kritik yang disampaikan para tokoh tersebut, termasuk kemungkinan preferensi terhadap figur lain seperti Anies Baswedan. (jlo/jpnn)
Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh




