Bisnis.com, JAKARTA — Emiten properti PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON) mengakui adanya tren pelemahan okupansi perkantoran secara global pascapandemi seiring perubahan pola kerja yang lebih fleksibel. Meski demikian, perseroan mengklaim tingkat keterisian ruang kantor miliknya masih berada pada level yang kompetitif.
Corporate Secretary PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON) Minarto Basuki menjelaskan, resiliensi kinerja tersebut didorong oleh bauran strategi pengembangan serta pemilihan lokasi aset yang strategis. Perseroan mengandalkan integrasi kawasan untuk menjaga daya tarik unit bagi penyewa maupun pemilik unit di tengah melandainya penyerapan ruang kantor secara umum.
"Secara global, tren okupansi perkantoran memang mengalami pelemahan pascapandemi Covid-19, seiring dengan perubahan pola kerja yang lebih fleksibel. Namun demikian, kinerja perkantoran Pakuwon Jati (PWON) tetap relatif resilien," ujar Minarto kepada Bisnis, dikutip Minggu (12/4/2026).
Data operasional perseroan mencatat bahwa hingga saat ini, tingkat keterisian unit masih berada di zona sehat. Portofolio perkantoran Pakuwon tercatat memiliki rentang okupansi di kisaran 70% hingga 99% di berbagai wilayah.
Minarto menjelaskan bahwa PWON menerapkan kombinasi skema strata title dan leasing guna mengurangi tekanan terhadap tingkat hunian. Skema penjualan unit membantu perseroan memitigasi risiko kekosongan ruang yang berkepanjangan pada aset perkantoran.
Selain itu, portofolio perkantoran PWON mayoritas berada dalam kawasan superblock terintegrasi. Akses langsung ke pusat perbelanjaan dan hunian menjadi nilai tambah krusial yang menjaga permintaan tetap stabil.
Baca Juga
- Pakuwon (PWON) Cetak Laba Rp2,34 Triliun, Pendapatan Naik di Tengah Tekanan Sektor Properti
- Katalis Jangka Panjang Saham Pakuwon (PWON)
- Laba Bersih Pakuwon (PWON) Tumbuh 34,26% Semester I/2025
"Hal ini didukung oleh strategi pengembangan perkantoran PWON yang mengombinasikan skema strata title [untuk dijual] dan leasing [untuk disewakan], di mana mengurangi tekanan terhadap tingkat hunian," jelas Minarto.
Mengenai sentimen kebijakan kerja jarak jauh atau work from home (WFH) yang kembali diimbau pemerintah, PWON memastikan tidak ada dampak langsung terhadap operasional. Perseroan menilai kebijakan tersebut memiliki irisan yang minim dengan target pasar mereka.
Segmentasi penyewa di gedung milik PWON didominasi oleh perusahaan swasta dan multinasional. Hal ini berbeda dengan kebijakan WFH pemerintah yang secara spesifik menyasar aparatur sipil negara (ASN) di gedung milik negara.
"Secara umum, kebijakan pemerintah saat ini termasuk penerapan WFH 1 hari per minggu tidak memberikan dampak langsung terhadap tingkat okupansi perkantoran portofolio PWON," pungkasnya.
Berdasarkan catatan Bisnis, sektor properti perkantoran di Jakarta diproyeksi memasuki fase pemulihan penuh dalam 3 tahun ke depan. Membaiknya proyeksi ekonomi dan terbatasnya pasokan baru menjadi katalis utama penguatan pasar komersial ini.
Colliers Indonesia memproyeksikan tingkat hunian (okupansi) di kawasan pusat bisnis (CBD) akan melesat hingga 83,5% pada 2029. Angka ini meningkat signifikan dari posisi kuartal I/2026 yang berada di level 75,7%.
"Kalau ditanya kapan sektor perkantoran pulih, menurut analisa kami, kita lihat ini masih butuh waktu sekitar 2-3 tahun ke depan untuk balik ke level sebelum pandemi," jelas Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto dalam laporannya analisis pasar properti Kuartal I/2026.
Ferry menambahkan, perbaikan pasar perkantoran tersebut seiring dengan adanya proyeksi perbaikan ekonomi serta masih minimnya suplai baru yang akan masuk ke pasar Jakarta dalam waktu beberapa tahun ke depan.
Tekanan pada pasokan baru diperkirakan mencapai titik terendah pada 2027 dengan nihilnya proyek gedung kantor yang rampung. Kondisi ini memaksa penyewa untuk menyerap stok ruang kosong yang saat ini masih melimpah di pasar.





