Sektor Akomodasi Jadi Pilar Penguatan Ekonomi Bali dan Pariwisata Nasional

wartaekonomi.co.id
10 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menegaskan komitmennya memperkuat sektor akomodasi yang merupakan tulang punggung pariwisata sekaligus kontributor utama pertumbuhan ekonomi Bali.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan tata kelola akomodasi wisata di Bali dengan meningkatkan kualitas komunikasi dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan (stakeholders), kepastian regulasi dan fasilitasi untuk usaha akomodasi pariwisata yang resmi berijin, mengikuti standar, berdaya saing dan berkelanjutan.

Pada triwulan IV 2025, ekonomi Bali tercatat tumbuh sebesar 5,86 persen secara year on year (yoy). Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi kontributor terbesar dengan sumbangan 1,69 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Bali serta berkontribusi 22,1 persen terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar, Rizki Handayani, dalam Forum Komunikasi Industri (Formasi) Pariwisata di Poltekpar Bali, Kamis (9/4/2026).

“Hal ini menegaskan sektor akomodasi tidak hanya menjadi tulang punggung pengalaman wisatawan, tetapi juga pilar utama penguatan ekonomi Bali dan pariwisata nasional,” ucapnya, dikutip dari siaran pers Kemenpar, Minggu (12/4).

Di tengah dinamika geopolitik global yang fluktuatif, Bali tetap memiliki keunggulan sebagai destinasi budaya yang diminati wisatawan dunia. Keunggulan tersebut perlu diperkuat melalui jaminan keamanan, peningkatan kualitas layanan, serta kepastian pengalaman wisata bagi wisatawan.

“Ketahanan sektor akomodasi Bali menjadi semakin penting sebagai fondasi stabilitas industri pariwisata nasional,” katanya.

Sepanjang 2025, Bali mencatat kunjungan wisatawan mancanegara yang tinggi. Namun demikian, data tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang dan nonbintang menunjukkan fluktuasi, yang mengindikasikan bahwa peningkatan jumlah wisatawan belum selalu berbanding lurus dengan tingkat hunian akomodasi formal. Kondisi ini menegaskan perlunya penataan ekosistem usaha untuk memastikan terciptanya industri pariwisata yang adil dan kompetitif. 

Forum ini turut dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, antara lain PHRI, Bali Villa Association (BVA), Bali Villa Rental and Management Association (BVRMA), Bali Tourism and Investment Chamber (BTIC), Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Kanwil DJP Bali, DPMPTSP Provinsi Bali, dan Bappeda Provinsi Bali, yang bersama-sama memberikan masukan terhadap berbagai isu strategis sektor akomodasi di Bali.

Sejumlah isu strategis pun menjadi perhatian bersama, antara lain maraknya akomodasi ilegal, vila yang belum terdaftar, serta short-term rental berbasis platform digital yang memunculkan tantangan kesetaraan bagi usaha formal yang telah memenuhi standar dan kewajiban.

Selain itu, terdapat fenomena kelebihan pasokan (oversupply) di kawasan tertentu, alih fungsi lahan, serta tekanan terhadap daya dukung lingkungan. Kondisi ini menuntut arah investasi pariwisata yang lebih berkualitas, terkendali, dan selaras dengan tata ruang Bali.

Menjawab berbagai tantangan tersebut, pemerintah terus memperkuat tata kelola sektor pariwisata melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko serta Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 6 Tahun 2025 tentang Standar Usaha Pariwisata.

Rizki mengajak seluruh pengusaha akomodasi pariwisata di Bali untuk bersinergi dalam penataan dan penguatan perizinan melalui sistem OSS-RBA (Online Single Submission Risk Based Approach).

“Legalitas usaha yang tertib akan memperkuat kualitas layanan, meningkatkan kepercayaan wisatawan, serta mendorong pariwisata Bali yang aman, profesional, dan berdaya saing,” katanya.

Ia menambahkan penguatan regulasi juga meningkatkan kapasitas pemerintah dalam melakukan pengawasan, pembinaan, serta penegakan kepatuhan secara lebih terukur.

“Sebagai tindak lanjut forum ini, kami berharap model komunikasi di daerah melalui forum seperti ini dapat dilead secara berkelanjutan oleh Dinas Pariwisata Daerah, sehingga koordinasi lintas pemangku kepentingan tetap berjalan efektif,” tambahnya.

Baca Juga: Travel + Leisure Co. Gandeng Swiss German University Perkuat Standar Kompetensi Pariwisata

Baca Juga: Kegiatan Strategis Kemenpar Dorong Kesiapan Sektor Pariwisata Nasional

Sementara itu, Ketua Tim Percepatan Audit Perizinan Usaha Pariwisata Provinsi Bali, Dr. Yoga Iswara, menyampaikan bahwa Bali terus memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata terbaik dunia melalui penataan sektor usaha akomodasi pariwisata. Upaya tersebut diwujudkan melalui program Audit Perizinan Usaha Pariwisata bertajuk Bali Kerthi Compliance pada bidang akomodasi, dengan menggunakan tiga aspek pemenuhan, yaitu aspek administrasi, aspek standar usaha, dan aspek keberlanjutan.

Kementerian Pariwisata berharap forum ini dapat menghasilkan langkah konkret dan implementatif dalam memperkuat tata kelola industri pariwisata, khususnya sektor akomodasi di Bali, sehingga tercipta ekosistem usaha yang lebih tertib, berkualitas, dan berkelanjutan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Komisaris Utama TBS Energi (TOBA) Bacelius Ruru Mengundurkan Diri
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
RSHS Bandung Minta Maaf, Pemprov Jabar Dorong Audit Menyeluruh
• 15 jam lalutvrinews.com
thumb
Bersaing dengan Ratusan Peserta, Mahasiswa FT UNM Borong Tiga Penghargaan di NCC 3 Bandung
• 11 jam laluterkini.id
thumb
Didukung Gubernur Sulsel, Empat Jalan Perkotaan Pinrang Rampung Diperbaiki
• 23 jam laluharianfajar
thumb
Negosiasi AS-Iran Gagal: Trump Nonton UFC di Miami, Wapres J.D. Vance Buka Suara
• 3 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.