HARIAN FAJAR, MAKASSAR — Menentukan apakah gebetan atau pasangan baru adalah “the one” seringkali terasa seperti menebak teka-teki. Di awal hubungan, semuanya terasa manis. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa pasangan tiba-tiba marah besar hanya karena masalah sepele seperti makanan yang kurang matang?
Sebuah studi terbaru dari University of North Carolina Greensboro (2026) yang dipimpin oleh Phil Lamb, PhD, mengungkapkan bahwa masa depan hubungan Anda ternyata bisa diprediksi melalui “jejak digital” masa lalu pasangan. Menurut Susan Krauss Whitbourne PhD di Psychology Today, bukan sekadar zodiak atau kecocokan hobi, berikut adalah 3 kunci utama untuk memahami pasangan Anda lebih dalam agar tidak menyesal di kemudian hari:
1. Gaya Kelekatan (Attachment Style) Sejak Bayi
Psikologi lama meyakini bahwa cara kita dirawat saat bayi membentuk bagaimana kita mencintai saat dewasa.
- Secure (Aman): Mereka yang masa kecilnya merasa didukung biasanya tumbuh menjadi pribadi yang percaya pada pasangan.
- Insecure (Tidak Aman): Mereka yang sering merasa diabaikan saat kecil cenderung menjadi cemas (anxious) atau justru menarik diri (avoidant) saat terjadi konflik.
Tips buat kamu: Perhatikan cara dia bereaksi saat kalian berjauhan. Jika dia menjadi sangat gelisah atau menuduh yang tidak-tidak saat kamu tidak memberi kabar sebentar, itu bisa jadi sinyal insecure attachment.
2. Jejak Pertemanan di Masa Remaja
Gaya cinta seseorang tidak muncul tiba-tiba saat dewasa. Hubungan pertemanan di masa sekolah adalah “laboratorium” pertama mereka dalam bersosialisasi. Dalam studi tersebut, kualitas pertemanan masa remaja—seperti kemampuan menjaga rahasia, kesetiaan, dan cara menyelesaikan sengketa dengan sahabat—menjadi indikator kuat bagaimana mereka memperlakukan pasangan romantis.
Tanya dirimu: Apakah dia masih menjalin hubungan baik dengan teman lamanya? Ataukah semua pertemanannya berakhir dengan drama dan permusuhan? Jika dia sering memutus kontak dengan teman hanya karena perbedaan pendapat sepele, waspadalah, pola itu bisa terjadi pada hubungan kalian.
3. “Cermin” dari Hubungan Orang Tua (Paling Menentukan!)
Inilah temuan yang paling mengejutkan dari penelitian selama 30 tahun ini: Interaksi antara orang tua pasangan adalah prediktor terkuat. Anak-anak adalah pengamat yang ulung. Mereka merekam bagaimana ayah dan ibunya mengelola konflik, memecahkan masalah, dan menunjukkan kasih sayang.
- Jika orang tuanya terbiasa berdiskusi sehat, dia kemungkinan besar akan melakukan hal yang sama.
- Namun, jika dia tumbuh di rumah yang penuh “perang urat syaraf” atau kemarahan yang meledak-ledak, dia mungkin tanpa sadar membawa pola toksik tersebut ke dalam hubungan kalian.
Kesimpulan: Haruskah Kita Putus?
Masa lalu memang bukan harga mati, tapi masa lalu adalah peta. Jika pasanganmu memiliki masa lalu yang kurang ideal, bukan berarti hubungan harus berakhir. Namun, memahaminya membantu Anda bereaksi lebih bijak.
Sebelum melangkah lebih jauh ke pelaminan, cobalah mengobrol santai tentang masa kecilnya atau amati bagaimana orang tuanya berinteraksi. Informasi ini jauh lebih berharga daripada sekadar bertanya “apa makanan favoritmu?” (*Nin)





