Iran on Fire, Reset Geopolitik dan Gagalnya Perundingan Amerika–Iran

okezone.com
13 jam lalu
Cover Berita

Penulis: M. Sholeh Basyari - Dosen INSURI Ponorogo dan Direktur Eksekutif Center for Strategic on Islamic and International Studies (CSIIS) Jakarta.


SEPERTI dugaan banyak orang, perundingan Amerika–Iran gagal. Amerika terus memaksa Iran menghentikan program nuklir sekaligus mengintimidasi Iran di sela-sela perundingan yang tengah berlangsung.

Tak beda dengan Iran, negeri para Mullah ini langsung “ngegas” dengan tuntutan tinggi: meminta Amerika mencairkan aset beku Iran di sejumlah perbankan di berbagai negara. Iran juga mendesak Amerika untuk mengendalikan Israel.

Baca Juga :
Pembicaraan AS dan Iran di Islamabad Tak Capai Kesepakatan, Ini Fakta-Faktanya

Amerika menawarkan ceasefire, Iran on fire

Dari awal Iran tidak ingin berunding, tidak ingin gencatan senjata (ceasefire/al-hudnah). Sementara Presiden Trump terus mempublikasikan kesuksesan operasi Epic Fury, sembari menawarkan ceasefire dan perundingan berikutnya dengan berbagai rayuan kepada Iran.

Kalaupun kemudian perundingan dan ceasefire terlaksana, sejatinya, seperti disaksikan masyarakat dunia, hanyalah basa-basi, atau setidaknya “ambil napas” sesaat.

Baca Juga :
Negosiasi Gagal, Iran Sebut Tuntutan AS Tak Masuk Akal

Sejumlah fakta lapangan menjadi alasan (reasoning) mengapa Iran “on fire” serta menolak ceasefire:

Pertama, kepercayaan diri Iran tengah membumbung tinggi. Iran sangat sadar bahwa masyarakat internasional mengikuti, memantau, dan bahkan dalam derajat tertentu menjagokan mereka.

Masyarakat internasional menjelma menjadi “suporter” Iran. Selain Amerika dan Israel, nyaris hanya kelompok Wahabi serta sebagian kecil oknum yang tidak mendukung Iran.

Baca Juga :
Coba Lintasi Selat Hormuz, Kapal Perang AS Putar Balik Setelah Iran Beri Peringatan

Kedua, Iran tengah menguji daya tahan (endurance), baik militer maupun warganya, dalam menghadapi situasi berat. Hal ini strategis, mengingat sebelum perang dimulai pada 28 Februari lalu, banyak yang beranggapan Iran lemah dan nyaris tidak membalas, seperti dalam perang 12 hari pada 2025.

Ketiga, secara kronologis tampak bahwa pada awalnya Iran “iseng” memainkan isu Selat Hormuz. Disebut “iseng” karena pada tahap awal, Iran belum menemukan pola. Namun belakangan, secara empirik pola tersebut terbentuk: mulai dari pelarangan kapal tanker Amerika, Israel, dan sekutunya melintas; kemudian memberi akses gratis bagi negara sahabat; hingga pengesahan oleh Parlemen Iran bahwa setiap kapal yang melintas wajib membayar bea transit sebesar 2 juta dolar.

 

Baca Juga :
Perundingan AS-Iran Berakhir Tanpa Kesepakatan Damai!


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Skuad Garuda Tetap Bangga Meski Takluk 1-2 dari Thailand di Partai Final Piala AFF 2026
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Wamenekraf yakini teater musikal siap jangkau pasar lebih luas
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Rute Lari Mangkunegaran Run Sudah Disertifikasi Badan Atletik Dunia 
• 16 jam laluharianfajar
thumb
Survei LSI: Lebih dari 80% Masyarakat Ingin Pemilu Tetap Langsung
• 11 jam laluokezone.com
thumb
Jusuf Kalla Dituding Nistakan Ajaran Kristen, Jubir JK: Kami Membantah dengan Tegas Tuduhan Itu
• 9 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.