Indonesia menegaskan komitmen untuk memperkuat kerja sama strategis dengan Rusia dalam mendukung swasembada pangan, khususnya pada sektor pertanian.
Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian RI Edi Prio Pambudi saat membuka Expert Dialogue on “Global Trade Challenges and Strategic Cooperation” pada Kamis (9/04/2026).
Dialog yang mempertemukan para pemangku kepentingan dari kalangan pemerintah dan pelaku usaha ini menjadi bagian dari rangkaian Pertemuan ke-7 Working Group on Trade, Industry, and Investment (WGTII) RI-Rusia.
Dalam sambutan pembukaannya, Deputi Edi menekankan pentingnya penguatan kolaborasi strategis antara Indonesia dan Rusia dalam menghadapi tantangan global, terutama pascapenandatanganan Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) pada Desember 2025.
“Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat kemitraan dengan Rusia, khususnya dalam menjamin ketahanan pangan, termasuk melalui kerja sama penyediaan bahan baku pupuk, perluasan akses pasar produk pertanian, serta pemanfaatan teknologi untuk modernisasi sektor pertanian,” ujar Deputi Edi, dikutip dari siaran pers Kemenko Perekonomian, Minggu (12/4).
“Partisipasi aktif sektor bisnis memiliki peran yang sangat penting dalam memperkuat hubungan ekonomi antara Rusia dan Indonesia. Kami mendorong agar para pelaku usaha dari kedua negara dapat terus menjajaki peluang kerja sama yang saling menguntungkan dan berkontribusi secara nyata terhadap pertumbuhan ekonomi,” ujar Deputi Illichev.
Dialog ini turut pula menyoroti dinamika global yang semakin kompleks, termasuk disrupsi rantai pasok, ketegangan geopolitik, serta meningkatnya kompetisi atas sumber daya strategis. Dalam konteks tersebut, kedua negara memandang bahwa penguatan kerja sama menjadi semakin penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dan meningkatkan ketahanan nasional. Perkembangan perdagangan bilateral juga menunjukkan tren positif, dengan peningkatan nilai perdagangan yang mencerminkan potensi besar untuk terus dikembangkan melalui kerja sama yang lebih terstruktur dan berorientasi jangka panjang.
Lebih lanjut, diskusi juga menegaskan bahwa transformasi rantai pasok global, termasuk swasembada pangan dan energi baru terbarukan, dapat membuka peluang baru bagi kolaborasi Indonesia dan Rusia. Kedua negara memiliki keunggulan komparatif yang saling melengkapi, mulai dari ketersediaan sumber daya alam, kapasitas industri, hingga penguasaan teknologi. Dalam hal ini, kerja sama tidak hanya difokuskan pada perdagangan, tetapi juga mencakup pengembangan proyek bersama, investasi, alih teknologi, serta penguatan riset dan inovasi guna mendorong industrialisasi bernilai tambah tinggi.
Menutup agenda ini, kedua pihak sepakat bahwa forum dialog ini dapat menjadi platform strategis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan kalangan akademisi dalam merumuskan langkah konkret ke depan. Kolaborasi yang lebih erat diharapkan dapat menghasilkan solusi yang adaptif terhadap perubahan global sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bagi kedua negara.
Baca Juga: Indonesia–Rusia Sepakati Penguatan Kerja Sama di Sektor Energi, Pertanian, dan Industri Prioritas
Baca Juga: Segera Temui Putin, Prabowo Coba Buka Opsi Beli Minyak Rusia
“Melalui dialog ini, Indonesia mendorong penguatan kerja sama yang lebih konkret dan berorientasi hasil, dengan melibatkan secara aktif sektor bisnis, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya, sehingga mampu menghasilkan solusi inovatif dan memperkuat ketahanan ekonomi kedua negara di tengah dinamika global,” pungkas Deputi Edi.
Senada dengan hal tersebut, Deputi Ekonomi Pembangunan Federasi Rusia Vladimir Illichev, selaku Ketua Bersama (Co-chairs) dari WGTII RI-Rusia, menyampaikan komitmen Rusia untuk terus memperluas kemitraan ekonomi dengan Indonesia, termasuk melalui penguatan kerja sama di berbagai sektor strategis serta peningkatan konektivitas perdagangan. Hal yang juga ditekankan adalah pentingnya peran aktif pelaku usaha dalam mendorong hubungan ekonomi kedua negara agar semakin konkret dan berkelanjutan.





