REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tepian Sungai Mahakam, suara kecipak air tak sekadar bunyi. Ia adalah denyut kehidupan, tentang harapan yang sempat tenggelam, lalu bangkit perlahan, hingga kini bersiap menjawab kebutuhan sebuah ibu kota baru.
Ketika ribuan aparatur sipil negara mulai berdatangan ke Ibu Kota Nusantara (IKN), kebutuhan pangan ikut bergerak naik. Di balik geliat pembangunan itu, sebuah kampung di Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, diam-diam bersiap mengambil peran penting: menopang kebutuhan ikan bagi ibu kota masa depan.
Baca Juga
Maluku Utara Fokus Hilirisasi Perikanan untuk Tingkatkan Ekonomi
Timnas Futsal Indonesia Gagal Pertahankan Gelar ASEAN 2026
Dua Kartu Merah Warnai Kekalahan Sassuolo 1-2 dari Genoa
Di atas keramba jaring apung yang tersusun rapi di aliran Sungai Mahakam, Muhmajadi berdiri. Sudah 24 tahun ia menekuni budidaya ikan. Di hadapannya, ribuan ikan nila berebut pakan, menciptakan riak-riak kecil yang terdengar seperti napas panjang yang akhirnya kembali teratur.
Namun perjalanan menuju titik ini bukan tanpa luka.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Tahun 2005 menjadi masa paling kelam. Wabah Koi Herpes Virus (KHV) menyapu habis ikan mas yang menjadi tumpuan hidup para pembudidaya. Bangkai ikan mengapung di sepanjang keramba, menyisakan rasa putus asa yang hampir mematikan semangat.
Muhmajadi termasuk yang terdampak paling dalam. Usaha yang dirintis sejak 2002 seolah runtuh dalam hitungan minggu. Banyak pembudidaya lain menyerah. Gulung tikar. Meninggalkan keramba yang sunyi.
Tetapi tidak bagi Muhmajadi.
Ia memilih bertahan. Bersama kelompoknya, ia mengambil keputusan penting: beralih dari ikan mas ke ikan nila, komoditas yang lebih tangguh menghadapi perubahan lingkungan.
Keputusan itu menjadi titik balik.
Hari ini, dari 36 petak keramba miliknya, Muhmajadi mampu memanen hingga satu ton ikan nila setiap bulan. Dalam satu kelompok pembudidaya, produksi bahkan bisa menembus lebih dari 10 ton.
Kampung Perikanan Budidaya Loa Kulu kini dihuni 40 kelompok pembudidaya, yang bergerak dari pembibitan hingga pembesaran ikan. Nila menjadi komoditas utama, sekaligus tulang punggung ekonomi lokal.
Namun cerita ini tak berhenti pada angka produksi.
Tahun 2025, Muhmajadi bersama delapan pembudidaya lain mendapat kesempatan langka: mengikuti pendidikan intensif di Sekolah Perikanan Rakyat (SPR) Institut Teknologi Bandung selama tujuh bulan. Di sana, mereka tak hanya belajar teknik budidaya, tetapi juga manajemen bisnis, mitigasi penyakit, hingga pendekatan ilmiah dalam perikanan modern.