Istilah ADHD (attention deficit/hyperactivity disorder) kerap didengar publik. Kondisi ADHD merupakan gangguan perkembangan pada saraf otak yang menyebabkan seseorang sulit berkonsentrasi, hiperaktif, bahkan menimbulkan perilaku impulsif.
Di Indonesia, ADHD disebut juga sebagai gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif (GPPH). Umumnya, gangguan ini muncul ketika masa kanak-kanak dan berlanjut hingga dewasa.
Laporan Survei Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada 2021 mengungkapkan prevalensi ADHD pada anak berusia 10-17 tahun di Indonesia mencapai 10,6 persen dari 5.664 anak yang menjadi responden. Artinya, minimal 1 dari 10 anak di Indonesia berisiko mengalami situasi ADHD.
Adanya risiko ADHD yang membayangi anak-anak di Indonesia memicu perbincangan di ruang media sosial. Sebagian berujar dengan nada dominan positif. Sebaliknya, ada pula yang menyuarakan komentar dengan sentimen negatif.
Litbang Kompas melakukan pemantauan dan analisis komentar di media sosial pada 8 Maret-6 April 2026 menggunakan mesin penghimpun data Kompas Monitoring. Data diambil dari platform media sosial Instagram, Facebook, Youtube, Tiktok, Threads, dan X. Diperoleh 2.420 komentar yang dianalisis dan dimaknai sesuai dengan tema ADHD.
Dari hasil analisis ditemukan topik yang paling banyak diperbincangkan bermuatan sentimen positif, yakni tentang gentle parenting (pola asuh lembut) dengan angka 86 persen. Belakangan, topik gentle parenting ramai diperbincangkan seiring munculnya kesadaran orangtua yang mengalami trauma dengan gaya pengasuhan yang keras saat kanak-kanak.
Acap kali warganet membenturkan dua gaya pengasuhan yang kontras, yakni antara gentle parenting dan ”VOC” parenting. Istilah VOC diibaratkan sebagai situasi penjajahan di mana seorang anak dididik secara keras dan penuh tekanan dari orangtua.
Gentle parenting dimaknai sebagai gaya pengasuhan yang mengutamakan empati, kesetaraan, serta keterbukaan dalam komunikasi dua arah. Dengan model pengasuhan itu, orangtua menyingkirkan tindakan kekerasan fisik dan kekerasan emosional untuk mengajarkan nilai-nilai kehidupan pada anak. Nilai yang ditanamkan, seperti kedisiplinan, kemauan untuk berbagi, dan sikap peduli terhadap sesama, dapat diajarkan melalui gentle parenting.
Pengasuhan yang mengedepankan empati dipandang sebagai metode mujarab ketika berhadapan dengan anak yang mengalami situasi ADHD. Anak dengan ADHD cenderung sulit berkonsentrasi, bertingkah hiperaktif, dan terkadang berperilaku impulsif yang tidak terduga. Kondisi tersebut memunculkan topik kedua yang juga dominan bernuansa positif.
Topik ”tantrum dan emosional” memunculkan 83 persen sentimen positif. Ini masih berkait erat dengan gentle parenting. Warganet berpandangan bahwa situasi tantrum dan emosional pada anak sudah jadi keseharian anak dengan ADHD sehingga perlu dihadapi secara bijak dan penuh kesabaran.
Mayoritas warganet yang bercakap dalam kelompok topik tantrum dan emosional menyoroti tentang bagaimana cara menangani anak yang mengalaminya. Ada yang berbagi pengalaman dan kiat pada kolom komentar. Warganet membangun nuansa berbagi dukungan dan menunjukkan simpati, bukan menyudutkan dan menuding sebagai situasi yang menyusahkan.
Dua topik itu jadi cerminan bahwa kepedulian warganet terhadap penyandang ADHD terbilang positif. Anak dengan ADHD dipandang sebagai kondisi yang butuh perlakuan khusus dari orangtua ataupun orang-orang di sekitarnya.
Di sisi lain, ada pula yang memandang kondisi ADHD sebagai beban. Orangtua, misalnya, mengeluh kelelahan mengasuh anak dengan ADHD turut muncul di kolom komentar.
Topik ”orangtua kelelahan mengurus anak ADHD” menuai 42 persen sentimen negatif dan 26 persen sentimen positif. Kubu negatif memuat keluhan rasa lelah para orangtua. Sebaliknya, komentar dengan muatan positif berisi dukungan moril bagi orangtua yang mengeluh. Keluhan para orangtua ini menunjukkan pengasuhan anak dengan kondisi ADHD memang tak mudah.
Sorotan seputar ADHD juga tertuju pada kaum dewasa. Topik self-diagnose oleh orang dewasa menjadi yang paling tinggi sentimen negatifnya, yakni mencapai 59 persen.
Di media sosial jamak beredar komentar yang menuding diri sendiri mengalami ADHD. Misalnya, ketika mengalami kesulitan untuk fokus pada suatu kegiatan atau pekerjaan. Ada pula yang mengaku mengalami dorongan impulsif yang kuat dalam dirinya.
Padahal, situasi itu tidak serta-merta menjadikan seseorang menyandang ADHD. Sebagai contoh kasus, kesulitan fokus bisa jadi disebabkan kelelahan. Bisa juga karena terlalu banyak memandang layar alias screen time.
Dokter spesialis kesehatan jiwa Dharmawan Purnama, Selasa (7/4/2026), mengatakan, orang yang mengidap ADHD tidak hanya mengalami satu gejala, tetapi banyak gejala dan mencakup semua lingkup kehidupannya. Misalnya, kesulitan fokus, manajemen waktu yang buruk, dan kegelisahan yang selalu dialami baik saat sendiri, di tempat bekerja, rumah, maupun lingkungan sosial lainnya.
Diagnosis mandiri tanpa didasari dengan pemeriksaan yang benar oleh tenaga ahli justru bisa menimbulkan risiko kesehatan lainnya. Ketika seseorang merasa dirinya mengalami ADHD, ada kecenderungan rasa cemas berlebihan. Perasaan cemas memicu stres dan penyakit lain yang tidak ada kaitannya dengan ADHD.
Maraknya diagnosis mandiri yang serampangan menjadi indikator bahwa sebagian warganet di Indonesia belum benar-benar memahami ADHD secara menyeluruh. Apabila mengalami gejala, sebaiknya dibuktikan melalui konsultasi dengan tenaga ahli di bidangnya.
Kembali pada temuan pantauan obrolan warganet, secara keseluruhan, penilaian terhadap isu ADHD didominasi sentimen positif sebesar 51 persen. Pandangan positif ini mayoritas disumbang oleh ujaran dukungan terhadap orang dengan ADHD serta kepada pihak-pihak yang dekat dan merawat mereka.
Sebaliknya, sentimen negatif secara keseluruhan terbilang kecil, hanya 10 persen. Selain terkait keluhan rasa lelah orangtua, ada ujaran negatif terkait stigma terhadap penyandang ADHD. Stigma ini, misalnya, anak susah diatur, tidak bisa diam, atau diberi cap sebagai anak nakal. Namun, itu semua terbilang minor dibandingkan sentimen positifnya.
Di antara sentimen positif dan negatif terdapat ujaran yang bermuatan netral sebesar 39 persen. Komentar netral ini banyak berisi tentang informasi seputar ADHD, seperti ragam gejala, metode penanganan melalui terapi, dan pengobatan lainnya.
Ada pula yang membagikan informasi pilihan sekolah inklusif bagi anak ADHD. Warganet menceritakan, beberapa sekolah menolak anak dengan indikasi ADHD, terutama pada jenjang sekolah dasar.
Percakapan di media sosial dari warganet Indonesia mencerminkan ekspresi simpati yang dominan. Hal ini menjadi sinyal positif bahwa ADHD diperhatikan sebagai situasi yang perlu dibantu, bukan justru dikucilkan atau diberi stigma negatif. (LITBANG KOMPAS)





