Iran Tegaskan Tak Akan Tunduk pada Ancaman AS

bisnis.com
12 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Iran menegaskan tidak akan tunduk terhadap tekanan maupun ancaman dari Amerika Serikat (AS) di tengah proses perundingan yang sedang berlangsung antara kedua negara.

Ketua parlemen Iran sekaligus tokoh yang terlibat dalam proses negosiasi, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan negaranya telah menunjukkan sejumlah inisiatif positif dalam pembicaraan dengan AS yang membantu mendorong kemajuan dalam proses perundingan.

Dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah Iran pada Minggu (13/4/2026), Qalibaf menyebut langkah tersebut merupakan bentuk itikad baik Teheran dalam mencari solusi diplomatik.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa ancaman baru yang disampaikan Presiden AS Donald Trump tidak akan memengaruhi sikap maupun keteguhan bangsa Iran.

“Jika kalian berperang, kami juga akan berperang. Namun jika kalian datang dengan logika, kami akan merespons dengan logika. Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun. Biarkan mereka kembali menguji tekad kami agar kami dapat memberi mereka pelajaran yang lebih besar,” ujar Qalibaf, dikutip dari Guardian.

Baca Juga : 5 Poin Penting Berita Global Sepekan, dari Perundingan AS-Iran hingga Produksi Minyak Dikerek

Qalibaf menyatakan Iran siap merespons secara tegas jika dihadapkan pada tekanan. Namun, ia juga menegaskan bahwa negaranya terbuka terhadap pendekatan rasional dalam proses diplomasi.

Menurutnya, Iran akan merespons secara proporsional terhadap setiap langkah yang diambil pihak lain dalam perundingan tersebut.

Pernyataan itu muncul di tengah dinamika hubungan Iran dan AS yang kembali memanas meski kedua pihak masih terlibat dalam berbagai upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Tensi Meningkat di Hormuz

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat setelah Trump mengumumkan rencana memblokade aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Militer AS melalui US Central Command menyatakan blokade terhadap kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran akan mulai diberlakukan pada 13 April.

Langkah tersebut memicu peringatan dari Islamic Revolutionary Guard Corps yang menyebut kehadiran kapal militer di sekitar Selat Hormuz dapat dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata. Trump juga kembali mengancam akan menyerang infrastruktur energi Iran jika kesepakatan untuk mengakhiri konflik tidak tercapai.

Situasi ini turut mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah dunia melonjak, dengan Brent sempat naik lebih dari 7% menjadi sekitar US$102 per barel dan minyak mentah AS naik sekitar 8% menjadi lebih dari US$104 per barel.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur tersebut setiap hari, termasuk dari negara-negara eksportir utama seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Iran.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
SPPA BEI catat transaksi Rp1.382 triliun pada 2025, naik 461,6 persen
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Ditahan KPK, Ajudan Gubernur Nonaktif Riau Ngaku Namanya Dicatut
• 44 menit laluokezone.com
thumb
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini Turun Jadi Rp2.818.000 per Gram
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Arab Saudi Pulihkan Kapasitas Penuh Pipa Minyak Timur-Barat Usai Serangan
• 20 jam lalupantau.com
thumb
Aksi Begal di Medan, 3 Penumpang Wanita Terpaksa Lompat dari Angkot yang Melaju Usai Ditodong Sajam
• 23 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.