JAKARTA, KOMPAS.com - Gangguan perkembangan saraf Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan suatu kondisi yang biasanya dialami anak-anak.
Anak-anak bisa terdiagnosis ADHD ketika usianya enam hingga tujuh tahun.
Namun, tidak menutup kemungkinan pula, gangguan perkembangan saraf ini justru baru disadari banyak orang di usia dewasa.
Baca juga: Ada 3 Demo di Jakarta Hari ini, Berikut Titik-titik Berpotensi Macet
Kondisi itu lah yang dialami oleh pria bernama Justito Adiprasetio (37) seorang dosen di Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung, Jawa Barat.
Pria yang akrab disapa Tito itu baru terdiagnosis secara medis mengalami ADHD ketika usianya sudah berusia 30 tahun.
Pengetahuan yang baru berkembangTito mengatakan, ADHD yang dialaminya baru setelah puluhan tahun, karena sebelumnya pengetahuan tentang gangguan perkembangan saraf ini masih sangat minim.
"Riset tentang ADHD, termasuk autistik ADHD, itu baru benar-benar well-established atau berkembang pesat mungkin dalam 10 hingga 15 tahun terakhir. Di Indonesia sendiri perkembangannya agak terlambat untuk bisa dikenal luas," tutur Dito ketika dihubungi Kompas.com, Senin (30/3/2026).
Baca juga: Hari Ini, 3 Prajurit TNI Bacakan Eksepsi di Sidang Kasus Kematian Kacab BUMN
Dalam DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) atau buku rujukan utama masalah kejiwaan yang datanya selalu diperbarui saja, diagnosis mengenai ADHD ini baru populer sekitar 10 hingga 15 tahun ke belakang.
"Jadi, kalau ditanya mengapa saya baru terdiagnosis tujuh tahun lalu, ya karena pengetahuan 20 hingga 25 tahun lalu tidak seperti hari ini," sambung Tito.
Puluhan Tahun BingungDosen itu bercerita, ia tumbuh di tengah kondisi keluarga yang cukup kompleks, di mana kedua orangtua bercerai dan berbagai masalah lainnya.
Harus menjalani hidup di tengah keluarga yang tidak utuh, tentu saja tidak mudah untuk Tito apalagi usianya masih belia saat itu.
Seiring berjalannya waktu, Tito merasa ada yang tidak beres dengan mentalnya, namun ia tidak mengerti dan bingung apa yang sebenarnya dialami.
Ketika beranjak dewasa, Tito pun mulai berusaha memecahkan kebingungannya tersebut, setelah mendapat saran dari tantenya yang memiliki panic attack.
Baca juga: Dianggap Malas dan Nakal, Anak dengan ADHD Ini Berjuang Bertahan di Sekolah
"Beliau berpesan bahwa jika saya punya masalah, saya harus menyelesaikannya sendiri dan tidak perlu takut, sedih, atau merasa malu. Sama seperti kalau punya penyakit jantung harus ke dokter, jika tidak bisa menyelesaikan masalah pikiran, maka harus ke psikiater," ucap dia.
Akhirnya, Tito memutuskan diri untuk pergi ke psikiater.
Namun, karena saat itu pengetahuan tentang ADHD belum berkembang seperti saat ini, ia justru didiagnosis memiliki gangguan mental yang lain.
Ditambah lagi, persoalan keluarga juga menjadi turbulensi yang harus Tito hadapi di tengah kondisinya.
Di sisi lain, penyebab masalah mental yang dialaminya juga belum diketahui secara jelas apakah genetik atau pola asuh.
"Karena kondisi keluarga tersebut, diagnosis saya dulu berbeda, saya sempat didiagnosis memiliki bipolar dan sebagainya," ungkap dia.
Anak Terdiagnosis ADHDTito mengaku, baru mengetahui dirinya mengalami ADHD, ketika anaknya yang baru berusia enam tahun terdiagnosis gangguan perkembangan saraf itu.
Ketika lahir, anaknya tersebut mengalami apraksia di mana ada tahap perkembangan yang terlewatkan.





