Pergerakan IHSG pada Pekan Ini Dipengaruhi Dinamika Geopolitik Timteng

idxchannel.com
9 jam lalu
Cover Berita

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai mulai menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah (reversal) setelah sempat tertekan hebat di bawah level 7.000. 

IHSG dinilai mulai menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah (reversal) setelah sempat tertekan hebat di bawah level 7.000. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai mulai menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah (reversal) setelah sempat tertekan hebat di bawah level 7.000. 

Pergerakan IHSG pada pekan lalu diwarnai dengan kesepakatan gencatan senjata di Timur Tengah (Timteng). Kendati demikian, pergerakan indeks bakal tetap dipengaruhi dinamika geopolitik yang terjadi di Timteng, terutama menyusul kegagalan negosiasi antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan.

Baca Juga:
Saham Konglo hingga BBCA Dongkrak IHSG Sepekan, BREN-BRPT Pimpin Reli

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji mengatakan, secara teknikal, IHSG menembus area resistance 7.117–7.222 pada pekan lalu, sehingga menjadi modal penting untuk penguatan lebih lanjut.

“Selama IHSG mampu bertahan di atas area 7.200, peluang penguatan lanjutan tetap terbuka. Namun, potensi koreksi jangka pendek tetap perlu diwaspadai setelah penguatan yang signifikan,” ujar Nafan dalam keterangan tertulis, Senin (13/4/2026).

Baca Juga:
IHSG Naik 6 Persen Sepekan saat Rupiah di Kisaran All-Time Low

Sementara itu, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto menilai penguatan indeks pekan lalu lebih didorong oleh sentimen sesaat akibat meredanya konflik AS–Iran. Dia menekankan bahwa faktor fundamental ekonomi belum mengalami perubahan signifikan.

“Gencatan senjata ini memberikan katalis positif dalam jangka pendek, namun sifatnya masih sementara. Pasar tetap rentan terhadap perubahan sentimen apabila tidak diikuti de-eskalasi yang lebih berkelanjutan,” kata Rully.

Rully juga menyoroti nilai tukar rupiah yang masih rentan di kisaran Rp16.900 hingga Rp17.100 per dolar AS. Menurutnya, potensi keluarnya dana asing (capital outflow) masih terbuka lebar mengingat kondisi fiskal yang melebar.

“Pergerakan rupiah masih berpotensi berada pada kisaran 16.900 hingga 17.100, sementara risiko capital outflow tetap terbuka,” ujarnya.

Selain isu geopolitik, investor pekan ini akan mencermati risiko struktural dalam negeri, salah satunya defisit APBN yang merangkak naik ke posisi 0,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Faktor eksternal yang tak kalah krusial adalah rencana peninjauan (review) indeks MSCI pada 12 Mei 2026 mendatang. Hasil review ini diprediksi menjadi penentu utama arah aliran dana manajer investasi asing di pasar modal Indonesia dalam beberapa pekan ke depan.

(Rahmat Fiansyah)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Antisipasi Campak, Dinkes Jabar Gelar Imunisasi di Sejumlah Daerah
• 54 menit laludetik.com
thumb
Nintendo Rilis Bundel Konsol Switch 2 dengan Dua Gim Super Mario Galaxy Edisi Terbatas
• 3 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
OCBC (NISP) Salurkan Dividen  Rp1,03 Triliun, Intip Jadwalnya
• 15 jam laluidxchannel.com
thumb
Longsor di Purbalingga Sangkanayu, Satu Orang Meninggal Dunia
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Tol Jagorawi Macet Malam Ini: Tol Ciawi ke GT Jagorawi Ditempuh 40 Menit
• 19 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.