REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tengah derasnya arus informasi digital, generasi muda hari ini hidup dalam dunia yang serba cepat, serba terbuka, sekaligus penuh risiko yang tak selalu terlihat. Di balik layar ponsel yang menyala hampir tanpa jeda, ada ancaman yang kerap luput disadari, penyebaran HIV yang perlahan menyasar kelompok usia produktif, termasuk generasi Z.
Di Papua Barat, kekhawatiran itu mulai dibaca sebagai sinyal serius.
Baca Juga
Sekutu Kental Trump-Netanyahu Keok di Pemilu Hungaria
Inter Kian Dekat Raih Scudetto Setelah Menang Dramatis atas Como
Pemprov Kaltim Gelontorkan Rp220 Miliar, Puluhan Ribu Mahasiswa Bisa Kuliah Tanpa Beban
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua Barat mendorong perubahan pendekatan dalam edukasi pencegahan HIV/AIDS, khususnya bagi kalangan pelajar dan mahasiswa. Cara lama dinilai tak lagi cukup menjangkau generasi yang tumbuh dalam ekosistem digital.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Papua Barat, Frans Abidondifu, menegaskan bahwa pendekatan konvensional perlu ditinggalkan secara bertahap.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Edukasi harus dikemas menarik dan relevan dengan dunia generasi Z, sehingga dapat diterima dan mampu mencegah mereka terpapar HIV/AIDS,” ujarnya di Manokwari, Ahad.
Pernyataan itu mencerminkan perubahan besar dalam cara memandang edukasi kesehatan. Generasi Z bukan lagi kelompok yang bisa dijangkau hanya dengan ceramah satu arah atau sosialisasi formal di ruang kelas.
Mereka hidup di ruang yang berbeda, ruang yang dibentuk oleh media sosial, konten visual, dan interaksi digital yang serba cepat.
Dalam konteks itu, pesan kesehatan yang disampaikan tanpa pendekatan kreatif berisiko tidak hanya diabaikan, tetapi juga kehilangan relevansi.
Dinkes Papua Barat melihat peluang di berbagai momentum kegiatan sekolah, mulai dari masa pengenalan siswa baru hingga perayaan internal sekolah, sebagai ruang strategis untuk menyisipkan edukasi kesehatan.
Kegiatan tersebut tidak lagi dikemas secara kaku. Sosialisasi dilakukan secara interaktif, melalui lomba kreatif, diskusi terbuka, hingga pelibatan langsung pelajar sebagai agen kampanye kesehatan.
Pendekatan ini tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun keterlibatan emosional.