Bisnis.com, JAKARTA — PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) atau Tugu Insurance memastikan pihaknya memberikan perlindungan asuransi terhadap dua kapal tanker PT Pertamina (Persero) yang masih berada di Selat Hormuz akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Presiden Direktur Tugu Insurance Adi Pramana menegaskan sebagai bagian dari grup Pertamina, perusahaannya turut serta memproteksi ketahanan energi.
“Ya tentunya kami juga mem-provide asuransi terhadap kapal tersebut dan kami selalu berkoordinasi dengan pertamina kondisi situasinya seperti apa,” ucapnya dalam Media Meet Up Tugu Insurance, dikutip Senin (13/4/2026).
Dirinya berharap bahwa dua kapal tersebut bisa cepat kembali dari kawasan Teluk Persia tersebut. Lebih lanjut, akibat perang yang terjadi di Timur Tengah itu maka meningkatkan risiko yang ada.
“Memang untuk perang ini ya pasti ada sedikit peningkatan risiko, jadi ada sedikit penambahan premi itu, tapi kami usahakan bahwa kami benar-benar support. Jadi ya sudah kita mungkin full effort-lah untuk membawa kapal tersebut kembali ke Indonesia,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Teknik Tugu Insurance Fadlil Iswahyudi turut memastikan Tugu Insurance akan selalu support Pertamina, sehingga risiko terjadinya kegagalan membawa kapal dan isinya tersebut ke Indonesia bisa diminimalisasikan semaksimal mungkin.
Baca Juga
- Ancaman Trump di Hormuz Guncang Harga Minyak, Bursa AS Masuk Fase Konsolidasi
- Kapal Pertamina Wajib Ikut Protokol Lintasi Selat Hormuz, Dubes Iran: Perlu Negosiasi
- Update Posisi 2 Kapal Tanker Pertamina Usai Terjebak Sebulan di Selat Hormuz
“Memang sampai saat ini, pintu Selat Hormuz sempat dibuka, eh ada [serangan bom] yang di Lebanon, ditutup lagi sekarang. Sampai sekarang masih ada di Teluk Persia, mudah-mudahan [Selat Hormuz] segera dibuka kembali,” ucapnya.
Lebih lanjut, Fadlil mengingatkan bahwa keterlambatan pengiriman tidak termasuk risiko yang dilindungi atau di-cover asuransi. Pada umumnya, asuransi ini lebih melindungi kerusakan kapal atau saat ada serangan seperti drone dan torpedo yang salah sasaran.
“Kayak di Kapal Thailand gitu kalau seperti itu ada kerusakannya itu akan di-cover. Jadi basically perang itu enggak di-cover, kecuali untuk di laut, ada cover-nya. Nah, kalau sampai ada torpedo, drone atau apa, dengan bom ya karena perang, itu di-cover,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, PT Pertamina (Persero) masih berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dalam proses negosiasi untuk segera meloloskan dua kapal tanker minyak miliknya yang belum bisa melintasi Selat Hormuz.
Kedua kapal tanker bernama Pertamina Pride dan Gamsunoro ini sudah sekitar sebulan lamanya usai eskalasi serangan yang dimulai oleh Amerika Serikat (AS)-Israel kepada Iran.
"Kami mengintensifkan koordinasi dengan Kemenlu agar proses diplomasi dan negosiasi berjalan dengan baik. Prioritas utama kami memastikan keselamatan awak kapal dan keamanan muatannya," terang VP Corporate Communications Pertamina Muhammad Baron kepada Bisnis, Kamis (9/4/2026).
Saat ini, lanjut Baron, kedua kapal tanker tersebut masih berada di kawasan Teluk Arab. Dia menyebut, salah satu kapal tanker itu mengangkut minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri.





