Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak dunia melonjak tajam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana blokade laut terhadap Iran.
Berdasarkan data Tradingview pada Senin (13/4/2026), harga minyak mentah jenis Brent melonjak 6,95% ke level US$101,82 per barel. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat 8,17% ke level US$104,46 per barel
Pergerakan harga minyak dunia dipengaruhi oleh komentar Trump terkait rencana blokade Iran. Melansir Al Jazeera, Trump menyatakan Angkatan Laut AS akan memblokir seluruh kapal yang masuk maupun keluar dari Selat Hormuz, menyusul gagalnya perundingan gencatan senjata antara pejabat AS dan Iran pada akhir pekan lalu.
Namun, US Central Command dalam pernyataan lanjutan menegaskan bahwa pembatasan hanya akan diberlakukan terhadap kapal yang menuju atau berasal dari Iran, sementara lalu lintas kapal lainnya tidak akan terdampak. Pernyataan ini mengindikasikan pelonggaran dari ancaman awal Trump terkait blokade penuh.
Komando tersebut menyebutkan bahwa kebijakan blokade akan mulai berlaku pada Senin pukul 10.00 waktu Timur AS.
Pergerakan harga minyak dalam beberapa waktu terakhir terpantau sangat fluktuatif, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik setelah serangan gabungan AS-Israel ke Iran mendorong Teheran memberlakukan blokade de facto di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global.
Baca Juga
- Ancaman Trump di Hormuz Guncang Harga Minyak, Bursa AS Masuk Fase Konsolidasi
- Risiko Perang Masih Membayangi Harga Minyak
- Ramalan Terbaru Harga Minyak Dunia Goldman Sachs, JP Morgan Cs
Setelah sempat menembus US$119 per barel bulan lalu, harga Brent sempat merosot di bawah US$92 per barel pada pekan lalu, menyusul pengumuman gencatan senjata selama dua pekan antara AS dan Iran setelah lebih dari enam minggu konflik.
Meski Iran masih mengizinkan sejumlah terbatas kapal melintas di selat tersebut dengan persyaratan verifikasi dan izin sebelumnya, volume lalu lintas tetap jauh di bawah kondisi normal.
Berdasarkan data perusahaan intelijen maritim Windward, hanya 17 kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Sabtu, turun drastis dibandingkan sekitar 130 pelayaran per hari sebelum konflik.
Tekanan geopolitik ini turut memicu pelemahan pasar saham Asia pada awal perdagangan Senin. Indeks acuan Jepang Nikkei 225 turun 0,9%, sementara indeks KOSPI melemah lebih dari 1%.
Sementara itu, kontrak berjangka saham AS juga bergerak turun, dengan indeks acuan S&P 500 terkoreksi sekitar 0,8% di luar jam perdagangan reguler.





