Harga minyak acuan dunia melonjak 8% menyentuh di atas US$ 100 per barel pada Senin (13/4). Kondisi ini terjadi seiring dengan keinginan Amerika Serikat (AS) untuk memblokade Selat Hormuz menyusul gagalnya perundingan mereka dengan Iran yang memperburuk situasi krisis energi global.
Harga minyak Brent naik 8,4% menjadi US$ 103,21 per barel, sementara West Texas Intermediate naik 8,9% menjadi US$ 105,12 per barel. Tak hanya minyak, berdasarkan data Bloomberg, harga gas berjangka Eropa juga mengalami kenaikan hampir 18%.
Sebelumya, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan blokade ini akan segera dilakukan mulai pukul Senin (13/4) pukul 10.00 waktu New York. Blokade ini hanya berlaku bagi kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran.
“Setiap pihak Iran yang menembaki kami, atau kapal sipil, akan dihancurkan!” kata Presiden AS Donald Trump dikutip dari Bloomberg, Senin (13/4).
Selain aksi blokade, Trump dan para penasihatnya juga mempertimbangkan untuk melanjutkan kembali serangan terbatas.
Selat Hormuz merupakan jalur vital pengiriman migas dari Teluk Persia ke pasar global. Rute ini memuat seperlima pasokan minyak dunia setiap hari sebelum terjadinya perang. Akses selat tersebut memang sudah dibatasi Iran sejak konflik meletus di Timur Tengah.
Pasar energi global sudah terguncang sejak perang di Timur Tengah dimulai pada akhir Februari dengan kenaikan harga minyak dan gas berisiko memicu inflasi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Bloomberg mencatat, saat ini terjadi perebutan di kalangan trader dan kilang seluruh dunia untuk mendapatkan pasokan kargo minyak mentah (crude) yang siap kirim, seiring dengan ketatnya stok.
Kendali Iran atas Selat Hormuz telah membuat AS frustasi. Teheran memberlakukan pembayaran bagi sebagian kapal dan menjaga lalu lintas tetap pada sebagian kecil dari level sebelum perang.
Direktur Program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies Mona Yacoubian mengatakan blokade AS di Selat Hormuz merupakan langkah yang cukup ambisius.
“(Langkah ini) tidak menyelesaikan masalah gangguan. Sulit untuk memahaminya,” kata Mona.
Lalu lintas melalui selat sempat meningkat dua hari lalu, namun kemarin ada dua kapal yang berbalik arah secara mendadak saat negosiasi AS Iran di Islamabad gagal mencapai kesepakatan.
Kegagalan perundingan antara AS dan Iran menjadi kemunduran signifikan setelah gencatan senjata rapuh disepakati pekan lalu. Menurut kantor berita semi-resmi, Tasnim, Iran menyebut tuntutan AS sebagai hal yang berlebihan.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan tujuan utama Washington adalah komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, namun ia pulang tanpa membawa hasil tersebut.




