Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 17.112 pada Jumat, 10 April 2026. Posisi rupiah itu melemah 30 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.082 pada perdagangan Kamis, 9 April 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 13 April 2026 hingga pukul 09.00 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.123 per dolar AS. Posisi itu melemah 19 poin atau 0,11 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.104 per dolar AS.
- Pixabay/IqbalStock
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, gagalnya kesepakatan perundingan yang digelar Iran dan Amerika Serikat (AS) di Islamabad, Pakistan, berpotensi membuat rupiah anjlok, harga minyak kembali naik, dan harga emas melonjak apabila invasi darat AS terjadi di Iran.
"Kesepakatan gagal, rupiah melemah tajam, harga minyak terbang karena Selat Hormuz di tutup kembali. Kalau terjadi perang darat (harga) emas siap terbang," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Senin, 13 April 2026.
Dia menambahkan, survei Konsumen yang dirilis Bank Indonesia (BI) menunjukkan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini masih kuat pada bulan Maret 2026. Hal ini tercermin dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat 115,4, masih berada pada level optimistis (di atas 100), meski sedikit lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 115,9.
Bank sentral menjelaskan, tetap kuatnya persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini terutama ditopang oleh peningkatan Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) yang naik menjadi 129,2, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 125,0.
Sementara itu, dua komponen lainnya masih berada di zona optimistis meskipun mengalami penurunan. Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) tercatat 107,8, turun dari 110,7 pada bulan sebelumnya. Adapun Indeks Pembelian Barang Tahan Lama atau Durable Goods (IPDG) berada di level 109,2, lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 112,0.
Kemudian, Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang Asia dan Pasifik akan melambat menjadi 5,1 persen pada 2026 dan 2027. Kondisi itu terbebani oleh konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian perdagangan yang berkelanjutan. Lingkungan global menjadi penuh tantangan dan ketidakpastian.





