Meski begitu, perseroan menjalankan sejumlah strategi untuk menjaga pertumbuhan di tengah tekanan daya beli.
IDXChannel - PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) membukukan pendapatan Rp76,6 triliun sepanjang 2025, tumbuh 17,3 persen dibandingkan 2024 yang sebesar Rp65,3 triliun.
Capaian itu berhasil diraih perseroan di tengah tekanan daya beli masyarakat dan dinamika global yang masih berlanjut. Meski begitu, perseroan menjalankan sejumlah strategi untuk menjaga pertumbuhan di tengah tekanan daya beli.
Group Chief Strategy Officer Erajaya Patrick Adhiatmadja menjelaskan, positioning di segmen mid-upper menjadi salah satu fondasi utama stabilitas kinerja perusahaan. Sebab, segmen pasar tersebut cenderung lebih stabil.
“Segmen market kami mayoritas berada di mid-upper, yang cenderung lebih stabil dan tidak terlalu volatile ketika terjadi tekanan ekonomi. Di saat yang sama, kami terus memperkuat portofolio produk dan pengalaman pelanggan sebagai bagian dari strategi untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Senin (13/4/2026).
Di sisi lain, dia menegaskan, bisnis utama perusahaan yang berfokus pada smartphone dan ekosistemnya masih menjadi pilar utama. Seiring perkembangan teknologi, perangkat tersebut telah menjadi bagian integral dari gaya hidup digital masyarakat.
“Smartphone sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan terhubung dengan berbagai perangkat lain, sehingga permintaannya tetap terjaga,” kata dia.
Untuk memperkuat daya saing, ujar Patrick, perseroan juga mengembangkan strategi omnichannel yang mengintegrasikan pengalaman belanja online dan offline. Konsumen dapat melakukan pembelian secara digital sekaligus memanfaatkan layanan di toko fisik, mulai dari pengambilan produk hingga layanan purna jual.
“Di situlah terjadi interaksi yang juga membuka peluang upselling,” ujar Patrick.
Di luar bisnis inti, perseroan turut memperluas portofolio usahanya ke sektor gaya hidup aktif serta food and groceries. Dalam kurun waktu sekitar lima tahun, kedua lini bisnis ini telah berkontribusi sekitar 12 persen terhadap total pendapatan, dengan tren pertumbuhan yang relatif tinggi.
Dia mengungkapkan, ekspansi tersebut juga tercermin dari sejumlah inisiatif terbaru. Di lini gaya hidup aktif, perseroan memperluas kehadiran brand global melalui pembukaan gerai perdana SHOKZ dan Garmin di Surabaya.
Sementara itu, di segmen food and groceries, ekspansi dilakukan melalui pembukaan gerai Chagee di Bali. Aktivasi brand seperti iBox Fitfest yang digelar pada awal Maret juga menjadi bagian dari upaya memperkuat engagement dengan konsumen.
Dari sisi ekspansi, kata Patrick, perseroan tetap menerapkan pendekatan yang selektif dan berbasis evaluasi. Setiap gerai dipantau secara berkala untuk memastikan kinerjanya optimal, termasuk melakukan relokasi atau penutupan apabila diperlukan.
“Kami tidak hanya fokus membuka toko baru, tetapi juga memastikan setiap lokasi memberikan kontribusi optimal,” kata Patrick.
Secara keseluruhan, dinamika ini menunjukkan bahwa ketahanan pertumbuhan di tengah pelemahan daya beli tidak hanya ditentukan oleh kondisi pasar, tetapi juga oleh strategi perusahaan dalam mengelola segmentasi, relevansi produk, serta adaptasi model bisnis terhadap perubahan perilaku konsumen.
Terpisah, Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai ketahanan kinerja ERAA di tengah tantangan tersebut tidak terlepas dari karakteristik segmen pasar yang disasar.
“Kinerja ritel yang tetap tumbuh signifikan menunjukkan bahwa segmen menengah ke atas masih kuat saat daya beli melemah, karena daya tahan mereka lebih stabil dan tidak terlalu sensitif terhadap tekanan inflasi. Namun, ini bukan satu-satunya faktor, eksekusi produk dan distribusi tetap dominan,” ujarnya.
Selain segmentasi, Reydi juga menyoroti perubahan karakteristik produk sebagai faktor penopang permintaan. Menurutnya, pergeseran smartphone menjadi kebutuhan esensial membuat permintaan cenderung lebih stabil dibandingkan produk konsumsi lainnya.
“Perubahan smartphone menjadi kebutuhan esensial membuat demand lebih stabil. Selain itu, perusahaan juga lebih fokus ke after sales service, bundling atau apapun yang bukan sekadar jualan unit saja,” kata dia.
Menurutnya, diversifikasi usaha dapat menjadi penopang pertumbuhan, selama tetap dijalankan secara terarah.
“Diversifikasi bisnis merupakan penopang penting, namun harus tetap relevan dengan bisnis inti, bukan sekadar ekspansi oportunistik, karena tentunya akan mengganggu image branding produk yang sebelumnya sudah kuat,” ujar dia.
(Dhera Arizona)





