WFA dan Efisiensi Negara: Saat Penghematan Bergeser Menjadi Beban Warga

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

DI TENGAH lanskap global yang kian tidak menentu, efisiensi kembali diangkat sebagai prinsip utama dalam pengelolaan negara.

Kebijakan ini hadir dalam berbagai bentuk pembatasan seperti perjalanan dinas, penerapan WFA (work from anywhere) bagi aparatur sipil negara, hingga pengetatan belanja kementerian dan lembaga.

Dalam logika fiskal, langkah-langkah ini tampak tak terbantahkan. Anggaran perlu dijaga, defisit harus dikendalikan, dan setiap rupiah dituntut menghasilkan manfaat optimal.

Namun, seperti banyak kebijakan yang tampak sederhana di atas kertas, efisiensi menyimpan konsekuensi yang lebih kompleks dalam praktiknya. Data menunjukkan, tekanan terhadap keuangan negara memang nyata.

Baca juga: WFH Burung, Kucing, dan Sapi

Pemerintah dalam beberapa waktu terakhir berupaya menahan laju belanja operasional, termasuk memangkas pos perjalanan dinas yang selama ini menyerap porsi signifikan dalam anggaran kementerian.

Pada saat yang sama, kebijakan fleksibilitas kerja seperti WFA diharapkan dapat menekan biaya penggunaan kantor sekaligus meningkatkan produktivitas aparatur.

Secara agregat, langkah ini berpotensi menghemat anggaran dalam skala besar. Namun, penghematan di tingkat negara tidak selalu berarti pengurangan beban secara keseluruhan.

Redistribusi Beban

Beban kerap berubah bentuk, bergeser dari institusi ke individu, dari pusat ke pinggiran, dari angka makro ke pengalaman mikro.

Ketika perjalanan dinas dibatasi, sektor perhotelan, transportasi, hingga pelaku usaha kecil di daerah yang selama ini bergantung pada mobilitas aparatur ikut terdampak.

Tingkat hunian hotel di sejumlah kota administratif dilaporkan menurun, sementara aktivitas ekonomi yang bergantung pada mobilitas tersebut ikut melambat. Hal serupa terlihat dalam penerapan WFA.

Bagi negara, pengurangan penggunaan fasilitas kantor berarti efisiensi biaya listrik, pemeliharaan, dan operasional lainnya.

Namun bagi individu, rumah kini menjadi ruang kerja yang menuntut kesiapan infrastruktur pribadi.

Biaya listrik meningkat, kebutuhan internet menjadi lebih tinggi, dan batas antara ruang kerja serta ruang domestik semakin kabur.

Tidak semua rumah dirancang sebagai tempat kerja, dan tidak semua individu memiliki sumber daya yang sama untuk menyesuaikan diri.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Dalam waktu yang bersamaan, masyarakat juga menghadapi tekanan dari sisi harga. Biaya transportasi mengalami kenaikan seiring penyesuaian tarif, sementara harga bahan baku global yang berfluktuasi turut memengaruhi harga barang konsumsi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran Klaim Usulan Rasional, Desak AS Ambil Sikap Realistis
• 20 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Harga Perak Antam Turun Lagi Dijual Rp47.050/Gram
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Timnas Indonesia U-17 Layak Pede Hadapi Timor Leste di Piala AFF U-17 2026, tapi Harus Waspadai Kehadiran Sosok Ini
• 1 jam lalubola.com
thumb
Polri Bongkar Penipuan Haji, Kerugian Tembus Rp92,64 Miliar
• 23 jam laluokezone.com
thumb
Kericuhan Kembali Pecah di Rohil, Warga Geruduk dan Rusak Rumah Terduga Bandar Narkoba
• 4 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.