Amerika Serikat mengakui bahwa harga minyak dan harga bensin dari negaranya berpotensi tetap tinggi hingga akhir tahun ini, menyusul belum adanya kesepakatan damai dengan Iran di Timur Tengah.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengakui bahwa harga bensin berpotensi tetap tinggi. Ia menyebut bahwa harga energi kemungkinan tidak akan turun signifikan dalam waktu dekat akibat operasi militer dari Washington.
Baca Juga: Padahal Trump Mau Hentikan Operasi Militer, Ini Alasan Gagalnya Negosiasi Iran dan Amerika Serikat
"Harga bensin bisa jadi sama atau mungkin sedikit lebih tinggi, tetapi seharusnya ia berada dalam sekitar angka yang sama," kata Trump.
Data GasBuddy menunjukkan adanya lonjakan harga bensin di Amerika Serikat. Di April, harga bensin rata-rata dalam negara tersebut berada di atas US$4 atau sekitar Rp70.000. Padahal di Februari, ia sempat berada pada level US$3. Sepanjang tahun sebelumnya, harga bensin dari negara itu tidak pernah melebihi US$3,25.
Kenaikan harga energi dipicu oleh gangguan pasokan global akibat konflik di Timur Tengah. Hal ini kemungkinan juga akan diperburuk dengan rencana blokade terbaru dari Amerika Serikat.
Diketahui, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan bahwa pihaknya akan mulai memblokade wilayah dari Selat Hormuz. Ia menyatakan bahwa pihaknya akan mengambil tindakan terhadap kapal mana pun yang membayar biaya atau “toll” kepada Iran.
"Saya telah menginstruksikan pasukan untuk mencari dan mencegat setiap kapal yang telah membayar bea masuk kepada Iran. Tidak seorang pun yang membayar bea masuk ilegal akan mendapatkan jalur aman di laut lepas," kata Trump.
Adapun Komando Pusat Militer Amerika Serikat atau U.S. Central Command (CENTCOM) sendiri menegaskan bahwa blokade akan diberlakukan secara menyeluruh dan tanpa pengecualian terhadap kapal dari semua negara. Kebijakan ini merupakan bagian dari langkah lanjutan dalam konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Washington melalu blokade ini akan melarang aktivitas keluar-masuk untuk kapal-kapal yang akan berlayar maupun bersandar dalam pelabuhan yang dimiliki oleh Iran. Namun, pihaknya juga menegaskan bahwa kebijakan ini tidak akan mengganggu kebebasan navigasi di Selat Hormuz
Ia juga mengumumkan bahwa pihaknya mulai melakukan persiapan untuk operasi pembersihan ranjau laut dalam wilayah dari Selat Hormuz. Operasi tersebut melibatkan dua kapal perusak berpeluru kendali milik Angkatan Laut Amerika Serikat. USS Frank E. Peterson (DDG 121) dan USS Michael Murphy (DDG 112) dikerahkan dan dilaporkan telah melintasi wilayah dari Selat Hormuz.
Baca Juga: Trump Yakin Iran Akan Penuhi Tuntutan Amerika Serikat
Dengan konflik yang belum sepenuhnya mereda, arah harga energi ke depan masih sulit diprediksi. Jika ketegangan terus berlanjut, harga minyak dan bensin berpotensi tetap tinggi dalam jangka menengah, termasuk hingga periode pemilu dari Amerika Serikat.





