Krisis Pangan Memburuk, Jutaan Warga Sudan Makan Sekali Sehari

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jutaan warga Sudan kini bertahan hidup dengan hanya satu kali makan per hari di tengah krisis pangan yang kian memburuk.

Perang yang memasuki tahun ketiga mendorong negara itu semakin dekat ke jurang kelaparan massal.

Laporan yang dirilis Senin (12/4) oleh sejumlah LSM internasional menyebut, di wilayah paling terdampak seperti Darfur Utara dan Kordofan Selatan, banyak keluarga bahkan tidak makan sama sekali dalam beberapa hari.

"Di dua wilayah yang paling parah terdampak konflik, jutaan keluarga hanya bisa mengakses satu kali makan per hari," demikian isi laporan tersebut, dilansir Reuters.

"Sering kali, mereka melewatkan makan selama berhari-hari," lanjut laporan itu, seraya menambahkan banyak warga terpaksa mengonsumsi daun hingga pakan ternak untuk bertahan hidup.

Konflik antara militer Sudan dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) telah menyebabkan jutaan orang mengungsi serta memperparah krisis kemanusiaan terbesar di dunia saat ini.

Menurut data rencana kemanusiaan 2026, sekitar 61,7% populasi Sudan atau 28,9 juta orang kini berada dalam kondisi rawan pangan akut. Bahkan pada Februari, pemantau ketahanan pangan global mencatat ambang kelaparan akut telah terlampaui di sejumlah wilayah, dengan tingkat malnutrisi anak hampir dua kali lipat dari batas darurat.

Meski demikian, pemerintah Sudan membantah adanya kelaparan massal, sementara RSF juga menolak bertanggung jawab atas kondisi di wilayah yang mereka kuasai.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya melaporkan berbagai kekejaman dan kekerasan bernuansa etnis yang meluas. Bahkan, pada November lalu, kondisi kelaparan resmi terkonfirmasi di beberapa wilayah seperti Al-Fashir dan Kadugli.

Laporan ini juga menyoroti bagaimana perang menghancurkan sektor pertanian, mulai dari ladang hingga pasar, serta penggunaan kelaparan sebagai "senjata perang".

Dapur umum yang menjadi tumpuan warga kini kewalahan, sementara pemotongan dana bantuan internasional semakin membatasi kemampuan lembaga kemanusiaan.

Perempuan dan anak-anak gadis menjadi kelompok paling rentan, dengan risiko tinggi mengalami kekerasan saat mencari makanan atau air. Rumah tangga yang dipimpin perempuan bahkan tiga kali lebih berisiko mengalami krisis pangan dibandingkan yang dipimpin laki-laki.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Persaingan Mobil China Kuartal I/2026 Memanas, Jaecoo Kejar BYD
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Antisipasi Campak, Dinkes Jabar Gelar Imunisasi di Sejumlah Daerah
• 2 jam laludetik.com
thumb
Iran Siap Capai Kesepakatan yang Adil dengan AS, Pezeshkian: Demi Perdamaian dan Keamanan
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
OIKN Mulai Bersihkan Lahan 3,24 Hektare untuk Pembangunan Polresta IKN di KIPP Nusantara
• 7 jam lalupantau.com
thumb
Dua Direktur Mundur, Hexindo (HEXA) Gelar RUPSLB Pertengahan Mei 2026
• 13 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.