JAKARTA, DISWAY.ID-- Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menyampaikan, akan menjalin kerja sama bilateral dengan pemerintah Tiongkok dalam bidang pengentasan kemiskinan dan pengembangan kawasan transmigrasi. Khususunya di wilayah Papua.
Hal itu disampaikan saat menerima kunjungan dari Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia di gedung Kementrans, Senin, 13 April 2026.
BACA JUGA:Kata Dubes Iran Soal 2 Kapal Pertamina yang Masih Tertahan di Selat Hormuz
"Kami sekarang ini sedang terus melakukan perencanaan dan persiapan untuk fokus targetnya tadi di Papua karena angka kemiskinan tertinggi kan ada di Papua dalam konteks Indonesia," katanya dalam sambutan.
Ia menjelaskan bahwa berbagai langkah awal telah dilakukan, terutama dalam pembangunan infrastruktur dan peningkatan produktivitas masyarakat.
"Contohnya misalkan jalan yang belum baik, kami perbaiki, kemudian juga beberapa sekolah kami renovasi, kemudian juga kami melakukan pendampingan langsung untuk peningkatan produktivitas padi misalkan dengan penyuluhan, kemudian juga pemberian pupuk, kemudian pemberantasan hama dan sebagainya," ujarnya.
BACA JUGA:Cocoklogi Video Mesra Aisar Khaled dengan Wanita Seksi di Thailand, Bukan Ria Ricis atau Fuji
"Tapi untuk betul-betul bisa mengentaskan kemiskinan seperti yang juga terjadi di Tiongkok, itu adalah suatu proses panjang dan juga kerja bersama," sambungnya.
Untuk mewujudkan itu, Pemerintah Tiongkok berencana akan mengundang pihak Inonesia untuk mengirimkan para ahli guna mempelajari strategi pengentasan kemiskinan, yang terdiri dari akademisi, Kementrans dan perwakilan transmigran dari Papua sendiri.
"Nantinya yang akan berangkat 37 orang, tapi saya sampaikan tadi bahwa tidak hanya transmigran, ini adalah para ahli. Nah yang akan berangkat 37 itu terdiri dari tiga kelompok. Kelompok pertama adalah dari pegawai kementerian transmigrasi sendiri, kami juga punya tenaga-tenaga penyuluh di balai-balai transmigrasi," ucapany.
BACA JUGA:Perundingan Damai Amerika dan Iran Gagal, Ini Seruan Ketum PBNU dan Paus Leo XIV
Kemudian tang kedua adalah perwakilan dari 10 universitas yang nanti akan terlibat langsung dalam kerja sama.
"Kemudian yang ketiga adalah dari para transmigran. Jadi beberapa nanti akan ada yang dari Papua. Jadi perwakilannya akan ada yang dari Papua juga, yang kita anggap betul-betul bisa menyerap ilmunya sehingga ilmu itu tidak berguna untuk dirinya saja, tetapi juga untuk masyarakat transmigran yang lainnya," tutupnya.





