Keraton Yogyakarta sukses menggelar International Symposium on Javanese Culture 2026 di The Kasultanan Ballroom Royal Ambarrukmo Yogyakarta selama dua hari pada 11–12 April.
Simposium internasional ini bertajuk "Architecture, Spatial Planning and Territory of The Sultanate of Yogyakarta".
Penghageng Kawedanan Tandha Yekti sekaligus Ketua Panitia Pelaksana International Symposium on Javanese Culture 2026, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu, turut menyinggung mengenai Alun-Alun Utara, Plengkung, dan benteng yang ditutup untuk revitalisasi.
"Kewajiban kami memastikan semua bangunan ini tetap ada sampai generasi selanjutnya dengan makna dan nilai sebenarnya. Bukan sebagai tempat untuk ngonten misalnya, atau tempat jadi jagoan, dan sebagainya," ungkap GKR Hayu dalam keterangan yang diterima kumparan, Senin (13/4).
Dalam simposium yang bertepatan dengan Peringatan Ulang Tahun ke-37 Kenaikan Takhta atau Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono ke-10 dan GKR Hemas, ada sejumlah agenda utama seperti pemaparan sesi arsitektur, gelar wicara mengenai kondisi keraton terkini, dan pemaparan sesi terakhir, yakni tata ruang dan lanskap.
Alun-Alun Selatan Menandingi Benteng VOCSalah satu pembicara dan reviewer adalah Dr. Hélène Njoto Feillard, sejarawan seni dan arsitektur serta associate researcher (perwakilan Jakarta) untuk pusat penelitian EFEO (École française d'Extrême-Orient/Sekolah Prancis untuk Timur Jauh).
Salah satu yang dibahasnya adalah keberadaan Alun-Alun Selatan.
"Bahwa sebenarnya keberadaan Alun-Alun Selatan ini merupakan suatu perspektif baru yang ditawarkan di era Kesultanan Yogyakarta, sebab di masa-masa terdahulu seperti Majapahit, Demak, Mataram Kerta, dan sebagainya, Alun-Alun Selatan ini belum ada," kata Dr. Hélène Njoto Feillard.
"Keberadaan Alun-Alun Selatan ini tampaknya hadir untuk menandingi keberadaan benteng-benteng VOC, sebagai satu legitimasi," ujarnya.
Putri kelima Sultan yang merupakan Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Nityabudaya sekaligus Ketua Panitia Pameran Temporer Smarabawana, GKR Bendara, mengatakan diharapkan simposium semakin mendorong peneliti dan peminat kajian budaya Jawa.
"Selama delapan tahun penyelenggaraan, pada 3 tahun terakhir, panitia selalu mengumumkan tema simposium tahun depannya. Hal ini diharapkan mampu mendorong para peneliti dan peminat kajian budaya Jawa untuk mempersiapkan abstrak dengan baik pada bulan April-Juli," kata Bendara.
Untuk simposium tahun berikutnya, diharapkan saat call for paper dibuka pada bulan Agustus-September peserta simposium sudah memiliki konsep tulisan atau penelitian yang dapat meyakinkan para reviewer.
"Bertepatan dengan berakhirnya simposium serta dalam upaya menjaga keberlangsungan diskusi, dengan ini diluncurkan tema tahun depan Tata Nilai dan Pendidikan di Kasultanan Yogyakarta," pungkas GKR Bendara.





