Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Jakarta
Wakil Ketua Umum DPP Partai NasDem, Saan Mustopa, merespons munculnya isu mengenai penggabungan atau fusi antara Partai NasDem dengan Partai Gerindra. Saan menilai wacana fusi merupakan hal yang biasa dalam dunia politik sebagai sebuah gagasan, namun memerlukan pertimbangan yang sangat mendalam untuk diwujudkan.
Saan menjelaskan bahwa penggabungan partai politik atau fusi pernah terjadi di Indonesia pada tahun 1973. Namun, ia menekankan bahwa konteks kebangsaan dan iklim demokrasi saat ini sudah jauh berbeda dengan masa tersebut.
“Ya, ini juga saya baru kaget juga ya, baru apa, mencuat terkait dengan soal isu fusi ya. Dalam bahasa politik itu kan fusi ya, bukan merger, bukan akuisisi ya, fusi. Apa, Gerindra, NasDem. Nah, kita kan dulu juga tahun '73, kan juga ada fusi. Partai, dari sekian banyak partai menjadi tiga partai. Tahun '73,” ujar Saan dalam keterangannya kepada media, Senin 13 April 2026.
Menurut Saan, faktor ideologi, identitas, dan eksistensi masing-masing partai menjadi poin krusial yang harus dipikirkan. Setiap partai politik didirikan dengan filosofi, idealisme, dan cita-cita yang berbeda dari para pendirinya.
“Ide, gagasan, wacana terkait dengan fusi, itu hal yang biasa sebagai sebuah wacana, sebagai sebuah ide, sebagai sebuah gagasan. Tinggal nanti bagaimana ketika dikontekstualisasikannya, banyak hal yang perlu dipikirkan,” tambahnya.
Terkait kondisi internal, Saan menegaskan bahwa Partai NasDem saat ini masih fokus pada agenda konsolidasi dan penguatan struktur partai di berbagai tingkatan, mulai dari nasional hingga daerah (DPRt). Ia menyatakan bahwa isu fusi belum menjadi pembahasan khusus di internal partai.
“Terkait dengan soal wacana, apa, fusi itu, itu belum menjadi apa, pembicaraan di internal secara, apa, lebih mendalam,” tegas Saan.
Menanggapi kabar bahwa wacana ini mencuat setelah pertemuan antara Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dengan Presiden Prabowo Subianto di Hambalang beberapa waktu lalu, Saan mengaku tidak mengetahui secara detail substansi pembicaraan tersebut. Namun, ia menilai pertemuan antar pimpinan partai koalisi dengan Presiden adalah hal yang lumrah untuk menyelaraskan dukungan terhadap program pemerintah.
“NasDem dalam setiap langkah politiknya, tentu bagaimana berusaha semaksimal mungkin agar apa yang menjadi agenda khususnya program prioritas dan juga program-program strategis dari pemerintah di bawah kepemimpinan apa, Presiden Pak Prabowo, kita berusaha secara maksimal agar agenda-agenda tersebut berjalan dengan baik dan sukses,” jelasnya.
Saan menutup dengan menegaskan bahwa komunikasi dan silaturahmi antara pimpinan partai koalisi dengan Presiden diperlukan untuk menyamakan persepsi guna memberikan dukungan maksimal bagi jalannya pemerintahan.
Editor: Redaktur TVRINews





