Bisnis.com, MAKASSAR - PT PLN (Persero) memperkuat mitigasi risiko pada sistem kelistrikan Sulawesi bagian selatan (Sulbagsel) guna mengantisipasi potensi krisis pasokan energi akibat fenomena El Nino yang diprediksi berlangsung lebih panjang pada tahun ini.
Langkah tersebut diambil seiring krisis energi yang terjadi pada 2023. Saat itu, kemarau ekstrem memangkas kemampuan produksi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di wilayah tersebut hingga 75%.
Dari total kapasitas terpasang sebesar 850 megawatt (MW), debit air yang menyusut hanya mampu menggerakkan turbin untuk memproduksi sekitar 200 MW. Imbasnya terjadi pemadaman bergilir di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.
Manager Komunikasi dan TJSL PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat (UID Sulselrabar) Ahmad Amirul Syarif mengungkapkan bahwa perseroan telah melakukan penguatan infrastruktur kelistrikan melalui penambahan kapasitas pembangkit guna menambal defisit jika performa PLTA kembali menurun.
PLN sudah melakukan langkah mitigasi dengan memperkuat sistem kelistrikan Sulbagsel, di antaranya penempatan pembangkit di Palu berkapasitas 2x50 MW serta pengoperasian pembangkit mobile di Pinrang, Makassar, dan Kolaka dengan total daya 120 MW.
Selain penambahan unit pembangkit, PLN juga menyiapkan opsi teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk menjaga elevasi air di waduk-waduk pembangkit strategis. Para pengelola pembangkit diimbau segera melakukan modifikasi cuaca apabila diperlukan.
Baca Juga
- Pasokan Batu Bara PLTU Terjaga, Stok PLN Capai 15,9 Hari
- PLN Siap Pensiunkan 2.396 PLTD, Genjot Transisi ke EBT
- PLN IP Gandeng Vietnam, Akselerasi Transisi Energi dan Pengembangan Hidrogen
"PLN sudah menyiapkan skema mitigasi risiko apabila ada dampak dari El Nino dengan penguatan sistem kelistrikan. Dengan kebutuhan listrik yang ada, ketersediaan pasokan listrik sistem Sulbagsel saat ini cukup untuk melayani masyarakat," ucap Ahmad Amirul Syarif kepada Bisnis, Senin (13/4/2026).
Dia pun mengimbau pelanggan untuk mulai membudayakan penggunaan listrik secara bijak. Selain demi efisiensi energi, penggunaan alat elektronik yang terkontrol juga meminimalisir risiko korsleting listrik yang kerap memicu kebakaran di musim kering.
"Kami meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Jika perangkat elektronik tidak terpakai, sebaiknya kabel dicabut dari stop kontak demi keamanan bersama," tuturnya.
Di sisi hulu, jajaran direksi PLN telah memberikan perhatian khusus pada keandalan PLTA Poso di Sulawesi Tengah. Sebagai tulang punggung energi bersih di Sulawesi, PLTA ini memiliki kapasitas 515 MW dan berkontribusi sebesar 17,50% terhadap total pasokan sistem Sulbagsel.
Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Rizal Calvary Marimbo belum lama ini memastikan operasional PLTA Poso tetap optimal untuk menjaga stabilitas sistem. Sebagai pembangkit beban dasar (base load), PLTA Poso berperan vital dalam menjaga frekuensi dan tegangan listrik sekaligus menekan biaya pokok penyediaan (BPP) listrik karena mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
"Ketahanan energi harus dibangun melalui kesiapan fasilitas pembangkitan dan penguatan koordinasi operasional. Kami memastikan seluruh aspek, mulai dari peralatan hingga personel, siap menjaga kontinuitas pasokan," kata Rizal.
Senada dengan hal tersebut, General Manager PLN Unit Induk Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (UIP3B) Sulawesi Fermi Trafianto mengatakan, pihaknya memperketat pemantauan pada titik-titik rawan distribusi.
"Keandalan sistem tidak hanya ditentukan oleh pembangkit, tetapi juga kesinambungan penyaluran. Kami berkomitmen memastikan distribusi dari PLTA Poso tetap stabil untuk melayani kebutuhan masyarakat, terutama pada periode beban puncak di musim kemarau," ujar Fermi.
Meskipun PLN optimistis pasokan saat ini cukup untuk melayani beban puncak, perseroan tetap meminta peran serta masyarakat dalam menjaga keseimbangan supply-demand.
Dengan kombinasi penguatan pembangkit cadangan, optimasi energi baru terbarukan (EBT), dan manajemen beban di sisi pelanggan, PLN berharap stabilitas kelistrikan di koridor Sulawesi tetap terjaga di tengah ancaman anomali cuaca tahun ini.
Diberitakan sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan potensi Godzilla El Nino akan diikuti oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia. El Nino variasi kuat ini diprediksi akan datang melanda Indonesia mulai April 2026.
Kombinasi kedua anomali iklim tersebut memicu musim kemarau yang lebih panjang dan kering dibandingkan dengan kondisi normal. Sejumlah model global menunjukkan ancaman pengurangan curah hujan yang signifikan di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi hingga Oktober 2026.
"Godzilla El Nino + IOD Positif kedengarannya keren, tapi dampaknya nggak main-main. Kemarau bisa jadi lebih panjang, lebih kering, dan hujan makin jarang turun di Indonesia,” jelas BRIN di akun Instagram resminya.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5489814/original/017529000_1769933678-WhatsApp_Image_2026-02-01_at_15.09.47.jpeg)

