Obligasi Korporasi Baru 2 Persen PDB, OJK: Potensi Masih Besar

idxchannel.com
2 hari lalu
Cover Berita

OJK mencatat rasio market cap obligasi korporasi di Indonesia baru 2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Obligasi Korporasi Baru 2 Persen PDB, OJK: Potensi Masih Besar (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio market cap obligasi korporasi di Indonesia baru 2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Deputi Komisioner Perizinan dan Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek OJK, Eddy Manindo Harahap mengatakan, pasar surat utang di Indonesia masih punya potensi untuk dikembangkan. 

Baca Juga:
OJK Ubah Aturan SLIK, Ini Respons Pengusaha Properti

"Jika dibandingkan dengan negara lain, kedalaman pasar surat utang Indonesia masih memiliki ruang yang cukup besar untuk dikembangkan," ujarnya dalam acara SPPA Award 2025 di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Senin (13/4/2026).

Eddy menilai, obligasi korporasi memiliki peran strategis sebagai alternatif pendanaan jangka panjang bagi dunia usaha, tanpa harus melakukan dilusi kepemilikan saham. Selain itu, keberadaan pasar obligasi yang dalam juga berkontribusi pada efisiensi alokasi modal dan stabilitas sistem keuangan.

Baca Juga:
OJK dan Kementerian PKP Segera Bentuk Satgas Percepatan Program 3 Juta Rumah

"Bagi korporasi, obligasi memberikan alternatif pembiayaan yang memungkinkan ekspansi usaha tanpa harus mengurangi kepemilikan saham. Lebih dari itu, pasar surat utang juga berperan dalam mendorong efisiensi alokasi modal, yaitu dengan menyalurkan dana investor secara produktif kepada sektor-sektor yang membutuhkan," katanya.

Dari sisi kinerja, OJK mencatat penghimpunan dana melalui penawaran umum sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp274,8 triliun, dengan kontribusi obligasi korporasi mendominasi hingga 77 persen. 

Baca Juga:
OJK Terbitkan Aturan Baru SLIK, Permudah MBR Ajukan KPR

Eddy menambahkan, pertumbuhan di pasar perdana perlu diimbangi dengan peningkatan likuiditas di pasar sekunder. Menurutnya, aktivitas perdagangan yang lebih aktif akan mendorong terbentuknya harga yang wajar serta meningkatkan kepercayaan investor.

"Perkembangan yang positif di pasar perdana juga perlu diimbangi dengan peningkatan duviditas di pasar sekundar. Karena itu upaya pendalaman pasar dan peningkatan aktivitas perdagangan tetap perlu terus kita perkuat bersama," katanya.

(DESI ANGRIANI)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
RI–Arab Saudi Jajaki Kolaborasi Ekraf, dari World Expo hingga Ekosistem Haji-Umrah
• 58 menit laluwartaekonomi.co.id
thumb
10 Saham dengan Peningkatan Jumlah Investor Tertinggi Maret 2026, Ini Daftar Emitennya
• 10 jam laluidxchannel.com
thumb
Budi Prasetyo Bantah Cemarkan Nama Baik Faizal Assegaf
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
OPM Tembak 3 Warga Sipil di Puncak Papua Tengah, Perempuan dan Anak-Anak
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
RI Negara High Profile di Dunia, Nego Dagang dengan AS Lebih Mudah
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.