Di tengah situasi global yang memanas akibat gagalnya perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, Indonesia didorong untuk bersiap menghadapi berbagai konsekuensinya.
Mantan Wakil Presiden ke-13 RI, Ma’ruf Amin, menilai kegagalan perundingan yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, tidak lepas dari adanya kepentingan tertentu.
“Kalau tidak ada kepentingan, kepentingannya kebaikan seluruh, pasti tidak akan terjadi kegagalan itu. Tapi kalau terjadi gagal berarti kan ada kepentingan terselubung, tidak sungguh-sungguh untuk mencari solusi, damai,” kata Ma’ruf Amin kepada wartawan di kawasan Jakarta Pusat, dikutip Senin (13/4).
Menurutnya, perang antara AS dan Iran akan menimbulkan dampak global yang tak terelakkan, termasuk bagi Indonesia. “Nah sebenarnya kalau mereka melihat bahwa dampak ini yang harus dihilangkan, mau mengurangi kepentingannya, sebenarnya mestinya tidak ada masalah ya. Tapi ketika itu tidak terjadi berarti itu kan memang tidak sungguh-sungguh,” ujar dia.
Oleh sebab itu, Indonesia harus siap menghadapi konsekuensi dari konflik kedua negara tersebut. “Iya, Indonesia pasti semua kena dampaknya. Tapi kita mau tidak mau kan harus siap menghadapi dampak apapun yang terjadi,” jelasnya.
Untuk diketahui, perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, selama 21 jam berakhir tanpa kesepakatan. Kedua pihak menggelar pembicaraan damai sejak Sabtu (11/4/2026) terkait upaya penghentian perang, namun hasilnya menemui jalan buntu.
Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bahwa kebuntuan ini justru menjadi kabar buruk bagi Iran dibandingkan bagi Washington.
“Kabar buruknya adalah kami tak mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu merupakan berita buruk bagi Iran, lebih dari untuk Amerika Serikat,” ujarnya, dikutip Senin (13/4).
Ia menegaskan AS telah mengutarakan syarat-syarat yang jelas dalam perundingan tersebut, namun Iran menolak.
“Jadi kami akan kembali ke AS, tak mencapai kesepakatan. Kami telah menegaskan dengan jelas batas kami, dan apa yang kami ingin akomodir dengan mereka, dan apa yang tak ingin kami akomodir. Kami telah membuatnya jelas, dan mereka memilih tak menerima syarat kami,” ucapnya.
Menurut Vance, AS sudah bersikap fleksibel dan akomodatif terhadap Iran, namun tetap gagal mencapai titik temu.
Baca Juga: Konflik Iran-AS Picu Risiko Klaim, Premi Bisa Naik 3 Kali Lipat
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.105, Dipicu Blokade AS ke Iran
“Kami tidak bisa mencapai situasi di mana Iran bersedia menerima persyaratan kami. Saya pikir kami cukup fleksibel, cukup akomodatif,” katanya.
“Presiden mengatakan kepada kami, ‘kalian datang dengan itikad baik dan melakukan upaya terbaik untuk mencapai kesepakatan’. Kami melakukan itu, dan sayangnya kami tak mampu mencapai kemajuan apa pun,” tambahnya.




