Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, menetapkan tahun 2026 sebagai periode krusial untuk memperkuat fondasi produksi seluruh komoditas strategis.
Langkah agresif ini diambil menyusul pencapaian kinerja keuangan tahun buku 2025 yang melampaui target, meskipun berada di tengah masa transisi dan dinamika operasional.
Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menyatakan, berdasarkan angka in-house yang sedang dalam proses penyelesaian audit, perseroan berhasil menjaga tren pertumbuhan positif.
Melansir data paparan, seluruh indikator keuangan utama tahun 2025 berada di atas target yang ditetapkan.
“MIND ID mencatat pendapatan atau revenue sebesar 159 T atau 4% di atas target."
"EBITDA sebesar 42 T atau 3% di atas target."
"Laba bersih atau net income sebesar 29 triliun atau 13% di atas target,” ungkap Maroef dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Angka-angka kinerja keuangan tersebut berstatus unaudited.
Maroef menegaskan, keberhasilan melampaui target finansial tersebut tidak lepas dari efisiensi internal.
“Pencapaian kinerja keuangan ini merupakan hasil dari optimalisasi kinerja operasional di tengah tantangan yang ada serta pengendalian biaya."
"Manajemen akan tetap berfokus pada keselamatan, kepatuhan, dan tata kelola yang baik,” tuturnya.
Realisasi dan Proyeksi Produksi
Memasuki tahun 2026, MIND ID menetapkan target pertumbuhan volume produksi yang signifikan pada sejumlah komoditas inti.
Maroef menjelaskan, perusahaan menempatkan tahun ini sebagai pijakan strategis.
“Pada tahun 2026 kami posisikan sebagai fondasi strategis untuk mencapai target jangka panjang, khususnya dalam meningkatkan keberlanjutan dan optimalisasi nilai dari seluruh portofolio tambang MIND ID,” jelas Maroef.
Berdasarkan data operasional, kenaikan tertinggi diproyeksikan pada komoditas bauksit yang ditargetkan melesat 89% menjadi 5,3 juta WMT, dibandingkan realisasi tahun 2025 sebesar 2,8 juta WMT.
Lonjakan signifikan juga dibidik pada komoditas timah.
“Untuk komoditas timah dari PT Timah menunjukkan pertumbuhan kuat sebesar 63% menjadi 29,1 ribu ton, menunjukkan hasil dari inisiatif peningkatan kinerja operasional PT Timah,” papar Maroef.
Pada sektor nikel, produksi bijih nikel diproyeksikan tumbuh 33% menjadi 24,4 juta WMT.
“Bijih nikel dari PT Antam dan PT Vale Indonesia naik signifikan, didorong dengan dimulainya operasi produksi blok Bahodopi dan Pomalaa milik PT Vale Indonesia,” terangnya.
Baca Juga: MIND ID Cetak Laba Bersih Rp29 T di 2025
Sementara, produksi batubara ditargetkan naik 5% menjadi 49,5 juta ton, dari realisasi 2025 sebesar 47,2 juta ton.
Untuk emas, MIND ID menargetkan kenaikan menjadi 6% atau sebesar 31,7 ton, yang didukung oleh peningkatan kinerja operasional. (*)





