VIVA –Amerika Serikat telah mengerahkan lebih dari 15 kapal perang untuk memberlakukan blokade laut di sekitar pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Dalam operasi ini, kapal serbu amfibi USS Tripoli (LHA 7) mengoperasikan jet tempur siluman F-35B Lightning II serta pesawat MV-22 Osprey di Laut Arab.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa blokade dimulai pukul 14.00 GMT (21.00 WIB) dan akan diberlakukan secara netral terhadap semua kapal yang masuk maupun keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk di kawasan Teluk Arab dan Teluk Oman. Namun, mereka menegaskan bahwa pasukan AS tidak akan menghalangi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menuju atau dari pelabuhan non-Iran, demikian seperti dikutip dari laman NDTV, Selasa 14 April 2026.
“USS Tripoli (LHA 7) melaksanakan operasi penerbangan malam saat berlayar di Laut Arab. Kapal ini dirancang tanpa dek sumur tradisional, sehingga dapat membawa lebih banyak jet tempur siluman F-35B Lightning II, pesawat MV-22 Osprey, helikopter, serta menyediakan ruang tambahan untuk perawatan. Dalam kondisi operasi puncak, kapal ini mampu meningkatkan kapasitasnya untuk mendukung lebih dari 20 unit F-35B,” demikian pernyataan CENTCOM.
Sebelumnya pada Senin, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa setiap kapal cepat Iran yang mendekati area blokade akan dihancurkan. Dalam unggahan di media sosial, ia mengklaim sebagian besar angkatan laut Iran telah dihancurkan selama perang.
“Angkatan Laut Iran kini berada di dasar laut, benar-benar hancur, 158 kapal. Yang belum kami hancurkan hanyalah sejumlah kecil yang mereka sebut ‘kapal serangan cepat’, karena sebelumnya tidak kami anggap sebagai ancaman besar. Peringatan, jika kapal-kapal ini mendekati BLOKADE kami, mereka akan segera DIMUSNAHKAN, menggunakan metode yang sama seperti yang kami gunakan terhadap penyelundup narkoba di laut. Cepat dan tanpa ampun. P.S. 98,2% narkoba yang masuk ke AS lewat laut sudah TERHENTI! Terima kasih atas perhatian Anda. Presiden DJT,” tulis Trump.
Blokade ini dilakukan setelah delegasi AS kembali dari pembicaraan di Pakistan. Delegasi tersebut dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance dan turut melibatkan utusan khusus Steve Witkoff serta Jared Kushner. Namun, mereka gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari, setelah serangan AS dan Israel ke Teheran.





