DI BEBERAPA tempat, orang berhenti di pinggir jalan untuk menikmati pemandangan. Di Sitinjau Lauik, Sumatera Barat, berhenti sering kali berarti mengambil risiko—dan kadang, memindahkannya kepada orang lain.
Beberapa hari lalu, video viral memperlihatkan rombongan kendaraan berhenti di tikungan tajam jalur Sitinjau Lauik, penghubung Padang–Solok.
Sejumlah orang turun dari kendaraan dan berfoto di badan jalan. Di depan rombongan, tampak kendaraan pengawalan.
Sementara itu, di belakangnya, kendaraan lain—termasuk truk bermuatan—harus menahan laju di tanjakan.
Peristiwa tersebut kemudian dikonfirmasi oleh kepolisian daerah setempat. Pengawalan diakui terjadi, dan sejumlah personel yang terlibat telah diperiksa serta mendapat teguran.
Penjelasan resmi menyebutkan bahwa penghentian hanya berlangsung singkat. Namun, pada jalur seperti Sitinjau Lauik, persoalannya tidak pernah sesederhana soal durasi—melainkan soal di mana dan dalam kondisi apa kendaraan itu berhenti.
Sitinjau Lauik bukan sekadar jalan berkelok. Jalur ini dikenal memiliki gradien curam, dengan kombinasi tikungan tajam yang menuntut kendali penuh dari pengemudi.
Baca juga: Viral Rombongan Pejabat Berfoto di Tikungan Ekstrem Sitinjau Lauik Sumbar, Dua Polisi Diperiksa
Berbagai laporan juga mencatat bahwa kawasan ini kerap mengalami kecelakaan, termasuk yang menimbulkan korban jiwa.
Tingginya risiko tersebut bahkan mendorong pemerintah merencanakan pembangunan flyover untuk menggantikan sebagian trase yang ada.
Artinya, negara sendiri telah mengakui bahwa jalur ini berada di luar kondisi ideal jalan raya pada umumnya. Namun pada jalur yang sama, kendaraan tetap berhenti—bukan karena darurat, melainkan untuk dokumentasi.
Berhenti di tanjakan dan tikungan tajam pada dasarnya berisiko bagi semua kendaraan. Namun tingkat risikonya tidak sama. Pada kendaraan ringan, situasi tersebut umumnya masih dapat dikoreksi dalam waktu relatif singkat.
Berbeda dengan truk bermuatan berat. Dalam praktiknya, kendaraan jenis ini sangat bergantung pada momentum untuk menanjak. Ketika momentum hilang, kendaraan tidak selalu dapat kembali bergerak dengan mudah.
Pada kondisi tertentu, situasi ini dapat berkembang menjadi risiko yang lebih besar—tidak hanya bagi kendaraan itu sendiri, tetapi juga bagi pengguna jalan di belakangnya.
Risiko di jalan tidak hanya ditentukan oleh lokasi, tetapi oleh interaksi antara lokasi dan karakter kendaraan.
Dok. Hutama Karya PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik (HPSL) selaku Badan Usaha Pelaksana (BUP) dalam Proyek Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) Pembangunan Flyover Panorama I (Sitinjau Lauik I) melaksanakan Penandatanganan Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Rancang Bangun Pembangunan Flyover Panorama I (Sitinjau Lauik I) dengan HK?HKI KSO pada Senin (26/5/2025).
Di beberapa titik Sitinjau Lauik, masyarakat setempat kerap terlihat membantu mengatur lalu lintas secara sukarela. Kehadiran mereka mencerminkan bahwa risiko di jalur tersebut bukan asumsi, melainkan realitas yang dihadapi setiap hari.