JAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah orangtua yang anaknya mengalami gangguan perkembangan saraf atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) berharap adanya perbaikan sistem pendidikan di Indonesia.
Para orangtua menilai, sistem pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya siap menerima anak-anak dengan ADHD. Masih banyak guru yang belum memahami cara terbaik menangani siswa dengan kondisi tersebut.
Imbasnya, anak dengan ADHD tetap sulit mendapatkan pendidikan yang tepat, meski sekolah tersebut telah dilabeli sebagai sekolah inklusi.
“Sistem pendidikan harus diperbaiki bersamaan dengan sistem kesehatan karena keduanya berkorelasi. Pendidikan harus mampu mendukung mereka yang berkebutuhan khusus,” ucap salah satu orangtua anak dengan ADHD, Justito Adiprasetio (37), saat dihubungi Kompas.com, Senin (30/3/2026).
Baca juga: ADHD pada Anak dan Dewasa, Perilaku Berubah Seiring Usia
Perbaikan sistem pendidikan yang dimaksud tidak hanya mencakup penyusunan kurikulum khusus untuk anak dengan ADHD, tetapi juga rasio guru dan siswa, peningkatan pengetahuan tenaga pengajar, serta kesejahteraan guru.
Tito mengaku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan guru jika belum mampu mengajar anak dengan ADHD.
Upah yang rendah di tengah beban kerja yang tinggi dinilai membuat guru kesulitan meningkatkan kapasitas diri.
“Banyak dari mereka lulusan sarjana pendidikan, tetapi mereka dibayar sangat rendah (underpaid). Kondisi ini membuat mereka tidak memiliki keleluasaan untuk menangani kasus khusus (seperti ADHD) secara optimal,” sambung Tito.
Baca juga: ADHD Kerap Disalahpahami, Cap Anak Nakal Jadi Luka Orangtua
Di sisi lain, pemerintah dinilai belum efisien dalam mengalokasikan anggaran untuk mendukung pendidikan anak dengan ADHD maupun kebutuhan khusus lainnya.
Pengalokasian APBNTito berharap adanya perbaikan secara holistik dalam penanganan persoalan ini.
Pemerintah diminta mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara optimal untuk sektor pendidikan dan kesehatan.
Menurut dia, anak-anak dengan ADHD atau kebutuhan khusus lainnya bukan hanya tanggung jawab orangtua, melainkan tanggung jawab bersama sebagai bangsa.
Baca juga: Perjuangan Hidup Orang dengan ADHD: Sulit Fokus dan Pikiran yang Terus Berlari
Jika tidak ditangani dengan pendidikan yang layak sejak sekarang, Indonesia dinilai akan menghadapi masalah besar di masa depan.
“Sayangnya, pola pikir seperti ini sering kali belum dimiliki oleh para pembuat kebijakan,” tutur dia.
Selain itu, Tito juga berharap agar ruang terbuka di Jakarta maupun wilayah lain di Indonesia semakin diperbanyak.





