Sejak kecil, Innocent Jacobus (33), atau Inno, telah hidup dengan hiperaktivitas dan kesulitan fokus. Kondisi ini sempat membuatnya tertekan hingga mengalami perlakuan kurang menyenangkan dari lingkungan.
Baru pada usia dewasa, Inno menyadari dirinya mengidap ADHD. Gangguan perkembangan saraf ini ditandai dengan kurangnya perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang menetap.
Inno berasal dari Manado, Sulawesi Utara. Pada 2007, ia bersama keluarganya pindah ke Sorong, Papua Barat Daya.
”SD dan SMP di Manado, lalu SMA hingga kuliah D-3 di Sorong. Sempat kuliah S-1 di Jakarta 2018–2020, lalu kembali dan bekerja di Sorong hingga sekarang,” ujar Inno, Kamis (9/4/2026).
Semasa sekolah, Inno merasakan hambatan besar dalam menjalani aktivitas belajar. Ia kesulitan mengikuti pelajaran, terutama yang disampaikan secara verbal, dan lebih mudah memahami materi tertulis.
”Saat sekolah, saya harus belajar ekstra agar nilai saya bisa memenuhi standar kelulusan,” ujarnya.
Saat kecil, ia juga sangat aktif bermain, bahkan kerap terlibat perkelahian dengan teman sebaya. Akibatnya, ia sering dicap sebagai anak nakal di lingkungannya.
Memasuki usia dewasa, kondisi tersebut justru semakin terasa mengganggu. Di rumah, ia juga menghadapi tuntutan dari orangtua, terutama terkait pekerjaan.
”ADHD itu tidak cocok dengan pekerjaan yang menetap di balik meja. Sementara bagi orangtua di timur, ukuran kesuksesan biasanya adalah bekerja kantoran. Kadang kami harus memakai ’topeng’ seolah-olah baik-baik saja,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menghadapi stigma dari lingkungan. Ketidaktahuan masyarakat membuat perilaku hiperaktif kerap dianggap aneh, terutama pada perempuan.
”Lama-kelamaan saya merasa ini masalah mental yang perlu saya pahami. Saya sempat mencari di internet. Awalnya mengarah ke gangguan lain, tetapi ada kaitannya dengan ADHD,” kata Inno.
Pada 2021, ia memberanikan diri berkonsultasi ke psikiater. Namun, saat itu diagnosis ADHD belum ditegakkan karena kondisinya tertutup oleh depresi berat. ”Saya diarahkan untuk terapi dulu untuk mengurangi depresi,” ujarnya.
Ia sempat menunda pemeriksaan lanjutan. Hingga pada 2023, saat mengikuti pelatihan di Bali, ia kembali mengalami kesulitan menerima materi. Hal itu mendorongnya kembali memeriksakan diri.
Kepada psikiater, Inno menceritakan seluruh pengalaman sejak kecil hingga dewasa. Dari situlah diagnosis ADHD akhirnya ditegakkan saat ia berusia 30 tahun.
Setelah mendapatkan diagnosis, Inno berusaha menjelaskan kondisinya kepada keluarga. Namun, respons awal orangtuanya tidak sesuai harapan.
Mereka masih awam terhadap ADHD, terlebih karena secara fisik Inno tampak normal. Namun, perlahan pemahaman itu tumbuh. Orangtuanya mulai menerima kondisi Inno dan tidak lagi memaksakan pilihan hidup tertentu.
”Mereka sekarang lebih memahami. Tidak lagi menuntut saya menjadi ASN dan mulai melihat bahwa saya lebih cocok di bidang lain,” ujarnya.
Kini, Inno memilih pekerjaan yang lebih dinamis, seperti di bidang sosial, lingkungan, dan pariwisata.
Ia juga bergabung dengan komunitas ADHD melalui media sosial. Dari komunitas tersebut, ia merasa tidak sendiri dan mendapatkan banyak pengetahuan untuk mengelola kondisinya.
”Sekarang saya sudah tidak mengonsumsi obat. Saya menjaga dopamin lewat aktivitas sehari-hari dan olahraga,” katanya.
Dari pengalamannya, Inno menyadari pentingnya kesadaran dan pendampingan bagi penyandang ADHD, terutama dari lingkungan terdekat.
Menurut dia, penanganan sejak dini akan membantu anak ADHD menjalani pendidikan dan pekerjaan dengan lebih terarah. ”Kalau edukasi diberikan sejak dini kepada orangtua, stigma bisa dikurangi dan anak tidak salah penanganan,” ujarnya.
Ia pun berharap ada perhatian lebih luas terhadap penyandang ADHD, termasuk dari pemerintah, melalui edukasi di sekolah, lembaga agama, dan masyarakat.
Dari Jayapura, Papua, harapan akan pentingnya pendampingan sejak dini terlihat dari kisah Juliawati Harimu (44) dan anaknya, Gio (13).
Gio didiagnosis epilepsi pada usia dua tahun, lalu ADHD pada usia empat tahun. Ia mengalami hiperaktivitas serta hambatan bicara. ”Sebenarnya Gio bisa berbicara. Namun, kosakatanya sempat menurun dan daya ingatnya terganggu,” ujar Juliawati.
Mengetahui kondisi tersebut, Juliawati memilih berhenti dari pekerjaannya sebagai kepala cabang bank di Jakarta untuk fokus merawat anaknya. Ia kemudian pindah ke Jayapura.
Di sana, ia memberikan perhatian penuh kepada Gio, dengan pendekatan yang hangat dan penuh kasih. ”Saya percaya rasa gembira dan bahagia adalah obat paling manjur,” ujarnya.
Pendekatan tersebut menunjukkan hasil. Kondisi Gio perlahan membaik, bahkan kejangnya berkurang hingga 90 persen. Juliawati juga mengembangkan pola makan sehat berbasis pangan lokal, seperti sagu dan umbi-umbian, yang turut membantu kondisi anaknya.
Juliawati yang juga hobi membuat kue dan roti semakin termotivasi membuat makanan sehat untuk anaknya. Ia memprioritaskan makanan bebas gluten atau tanpa tepung terigu.
Namun, dari awalnya membuat makanan sehat untuk Gio, Juliawati lalu mencoba komersial. Dengan jenama Bread is Home, ia memasarkan kukis dari sagu hingga roti petatas ungu.
”Saya membuat makanan yang bisa dimakan juga oleh Gio. Namun, ketika saya publikasi di media sosial, ternyata orang luar banyak juga berminat,” katanya.
Hal ini membuka jalan rezeki bagi Juliawati hingga bisa mempekerjakan orang di sekitarnya. Dia juga kerap dipercaya oleh berbagai entitas badan usaha hingga pemerintah daerah untuk ikut lomba atau kegiatan terkait makanan sehat berbasis pangan lokal.
Kisah Inno dan Juliawati menunjukkan bahwa ADHD bukan sekadar persoalan individu, melainkan juga persoalan sosial. Kurangnya pemahaman membuat banyak penyandang ADHD menghadapi stigma dan keterlambatan diagnosis.
Padahal, dengan deteksi dini dan dukungan yang tepat, penyandang ADHD dapat berkembang dan menjalani kehidupan yang produktif. Edukasi yang lebih luas menjadi kunci untuk menghapus stigma, sekaligus membuka jalan bagi penanganan yang lebih baik di masa depan.





