EtIndonesia — Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran resmi memasuki hari kedua pada Sabtu (11/4), di tengah meningkatnya ketegangan militer dan tekanan geopolitik dari berbagai pihak di kawasan Timur Tengah.
Presiden Donald Trump menyampaikan pernyataan yang cukup mengejutkan. Ia menegaskan bahwa tercapai atau tidaknya kesepakatan bukanlah hal yang krusial, karena menurutnya posisi Amerika saat ini sudah berada dalam kondisi “unggul”.
Pertemuan Rahasia di Pakistan dan Perundingan Maraton
Di tengah proses negosiasi, laporan dari CNN mengungkapkan adanya manuver penting di belakang layar. Sejumlah pejabat senior dari Korps Garda Revolusi Iran dan Pasukan Quds dilaporkan tiba di Pangkalan Udara Nur Khan, Pakistan, untuk melakukan pembicaraan dengan pihak militer dan diplomatik Pakistan.
Data penerbangan juga mengonfirmasi bahwa pesawat milik Mahan Air—maskapai yang masuk daftar sanksi Amerika—telah mendarat di lokasi tersebut, memperkuat indikasi adanya koordinasi strategis lintas negara.
Awalnya, perundingan langsung hanya dijadwalkan berlangsung satu hari. Namun, kenyataannya diskusi berlanjut hingga larut malam. Menurut laporan Axios, setidaknya tiga putaran pembicaraan telah berlangsung dengan total durasi mencapai 14 jam, sebelum akhirnya dihentikan sementara.
Pemerintah Iran menyatakan bahwa meskipun terdapat perbedaan besar, dialog tetap dilanjutkan pada Minggu, 12 April 2026.
Media nasional Iran seperti IRIB bahkan menyebut momentum ini sebagai “upaya terakhir” untuk mencapai kerangka kesepakatan, sementara kantor berita Tasnim News Agency memperingatkan bahwa tuntutan Amerika yang dianggap terlalu berat dapat menggagalkan seluruh proses.
Empat Syarat Keras Iran, Jalan Buntu Tak Terhindarkan
Salah satu titik paling krusial dalam negosiasi ini adalah kendali atas Selat Hormuz—jalur vital bagi perdagangan energi dunia.
Iran secara tegas mengajukan empat syarat utama yang disebut tidak bisa ditawar:
- Kedaulatan penuh atas Selat Hormuz
- Pembayaran kompensasi perang secara menyeluruh
- Pencairan aset Iran tanpa syarat
- Gencatan senjata permanen di kawasan Asia Barat
Namun, pihak Amerika dinilai hampir mustahil menerima seluruh tuntutan tersebut. Akibatnya, perundingan pun mengalami kebuntuan sejak tahap awal.
Lebih jauh, pejabat Amerika mengungkapkan bahwa Iran sebelumnya telah menanam ranjau laut di Selat Hormuz, namun kini tidak mengetahui seluruh lokasi penempatannya. Keterbatasan kemampuan penyapuan ranjau membuat jalur tersebut belum bisa dibuka sepenuhnya—menjadikannya persoalan teknis sekaligus politik.
Manuver Militer dan Tekanan Regional Meningkat
Di tengah negosiasi yang belum menemukan titik temu, ketegangan militer justru terus meningkat.
Laporan dari Fars News Agency menyebutkan bahwa anggota Dewan Ahli Iran kini turut terlibat dalam perundingan, menandakan bahwa pembicaraan telah memasuki tahap teknis tingkat tinggi.
Namun, mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional AS, Brett McGurk, menilai belum ada tanda-tanda signifikan bahwa perbedaan kedua pihak mulai menyempit.
Sementara itu:
- Israel terus melancarkan serangan udara ke Lebanon selatan
- Militer Israel dikabarkan telah menyiapkan daftar target strategis di Iran
- Arab Saudi mengizinkan penempatan jet tempur Pakistan di Pangkalan Udara Raja Abdulaziz
- CENTCOM mengonfirmasi bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln dalam kondisi siaga penuh
Pada saat yang sama, laporan intelijen yang dikutip CNN menyebut bahwa Tiongkok tengah bersiap mengirim sistem pertahanan udara baru ke Iran. Menanggapi hal ini, Trump memperingatkan bahwa Beijing akan menghadapi konsekuensi serius jika langkah tersebut benar dilakukan.
Negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain juga mendesak Washington untuk tetap mempertahankan tekanan militer terhadap Iran.
Selat Hormuz Lumpuh, Ribuan Kapal Tertahan
Meski sempat diumumkan adanya gencatan senjata terbatas, kondisi di Selat Hormuz masih jauh dari normal.
Hingga 11 April 2026, sekitar 3.200 kapal dilaporkan tertahan di sisi barat selat, termasuk sekitar 800 kapal pesiar dan kapal kargo. Para analis energi menilai jalur tersebut secara praktis masih “lumpuh”.
Trump menyatakan bahwa banyak kapal kosong sedang menuju Amerika untuk mengangkut pasokan minyak dan gas, sebagai bagian dari upaya stabilisasi energi global.
Sementara itu, muncul laporan bahwa Amerika mempertimbangkan pencairan aset Iran senilai 6 miliar dolar AS yang disimpan di Qatar, meskipun kabar ini kemudian dibantah oleh pejabat AS.
Kondisi Pemimpin Baru Iran Jadi Sorotan
Di tengah situasi yang semakin kompleks, kondisi pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, turut menjadi perhatian internasional.
Menurut laporan Reuters, Mojtaba dikabarkan mengalami luka serius akibat serangan udara, termasuk cedera parah di wajah dan kemungkinan kehilangan satu kaki.
Meski demikian, ia disebut masih aktif berpartisipasi dalam pengambilan keputusan melalui konferensi video, termasuk dalam proses negosiasi yang berlangsung di Islamabad, Pakistan.
Kesimpulan: Jalan Panjang Menuju Kesepakatan
Para analis menilai bahwa peluang tercapainya kesepakatan menyeluruh dalam waktu dekat sangat kecil. Perbedaan antara kedua pihak mencakup berbagai isu fundamental, mulai dari program nuklir, kendali Selat Hormuz, konflik di Lebanon, hingga pencabutan sanksi ekonomi.
Dengan kompleksitas yang tinggi serta meningkatnya tekanan militer di lapangan, perundingan ini tidak hanya menjadi ujian diplomasi, tetapi juga penentu arah stabilitas kawasan Timur Tengah ke depan. (***)





