Jakarta, VIVA – KH Abdussalam Shohib atau akrab disapa Gus Salam berkunjung ke kantor Kementerian Agama (Kemenag) RI di Jakarta Pusat. Kunjungan Gus Salam itu dalam rangka silaturahmi untuk menemui tokoh NU yang telah berkhidmat di jam’iyyah lebih dari 40 tahun.
"Saya ingin silaturahmi ke Pak Menteri Nasaruddin Umar. Beliau telah berkhidmat di NU sejak muda di daerahnya, hingga sekarang berkhidmat sebagai Rais PBNU,” kata Gus Salam dalam keterangannya, Selasa, 14 April 2026.
“Ya, beliau kan kiai-ulama NU yang ditakdirkan mendapat tugas sebagai Menteri Agama RI. Kita sebagai santri sepatutnya sowan, ngaji-belajar dan berdiskusi dengan beliau,” sambungnya.
Menurut Gus Salam, sosok Menteri Nasaruddin memiliki pengalaman organisasi dan khidmah di bidang sosial keagamaan yang luas dan matang. Termasuk dikenal sebagai sesepuh Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII).
"Dan, beliau pernah menjadi Katib Aam PBNU tahun 2004-2009, mendampingi Rais Aam, Allah Yarham Dr (HC) KH Muhammad Achmad Sahal Mahfudh," katanya.
Gus Salam mengatakan bahwa Menag Nasaruddin menyampaikan keprihatinannya terkait kondisi PBNU.
“Waktu silaturahmi dan diskusi dengan beliau, tadi. Prof. Nasaruddin sebagaimana para sesepuh NU yang lain, merasakan keprihatinan yang mendalam atas situasi PBNU saat ini. Kita merasakannya belum pernah terjadi sepanjang berdirinya NU,” kata Gus Salam.
Gus Salam menambahkan bahwa Menag Nasaruddin menegaskan harapan agar ada rekonsiliasi; memulihkan hubungan diantara petinggi, pengurus dan kader NU dengan mengabaikan perbedaan serta ego personal dan kelompok.
“beliau meminta agar ada kesungguhan dari semuanya untuk merajut kembali kebersamaan demi mengembalikan marwah, wibawa dan khidmah perjuangan NU di tengah-tengah umat,” ungkap Gus Salam.
Menteri Nasaruddin, lanjut dia, juga memantau perkembangan persiapan PBNU dalam penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU. Dan, mengungkapkan harapan supaya proses pergantian kepemimpinan PBNU melalui muktamar nanti dilaksanakan secara sehat, terbuka dan mengedepankan etika dalam berorganisasi dan berdemokrasi.
“agar dibuka ruang seluas-luasnya bagi kader NU yang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk meraih kepercayaan Nahdliyyin, dipilih menjadi pimpinan PBNU selanjutnya oleh peserta muktamar. Prof. Nasaruddin juga berharap, pada muktamar nanti bisa terpilih pemimpin NU yang jujur, amanah, luwes dan berintegritas,” katanya.





