Pasokan Sulfur Tersendat, Produsen Nikel Indonesia Pangkas Output Bahan Baterai

idxchannel.com
16 jam lalu
Cover Berita

Gangguan pasokan sulfur akibat konflik Iran mulai merembet ke industri nikel Indonesia.

Pasokan Sulfur Tersendat, Produsen Nikel Indonesia Pangkas Output Bahan Baterai. (Foto: ANTAM)

IDXChannel – Gangguan pasokan sulfur akibat konflik Iran mulai merembet ke industri nikel Indonesia. Sejumlah pabrik pengolahan nikel dilaporkan memangkas produksi sedikitnya 10 persen sejak bulan lalu, menyusul tersendatnya bahan baku utama untuk proses hilirisasi.

Melansir dari Reuters, Selasa (14/4/2026), pemangkasan ini terutama terjadi pada fasilitas yang menggunakan asam sulfat untuk mengolah bijih nikel menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan antara penting untuk baterai kendaraan listrik (EV).

Baca Juga:
ADB dan FTSE Beri Sinyal Positif untuk RI, Airlangga: Bukti Kepercayaan Pelaku Pasar Global

Meski produksi secara keseluruhan masih tergolong tinggi, pasokan MHP mulai mengetat, menjadi salah satu indikasi nyata bahwa konflik geopolitik mulai mengganggu rantai pasok sektor tambang.

Sumber industri menyebut, pabrik yang terdampak antara lain yang didukung perusahaan China seperti Huayou Cobalt, Lygend Resources, dan Tsingshan Group.

Baca Juga:
Transkon Jaya (TRJA) Mau Tambah Lini Usaha, Perluas Layanan ke Kawasan Industri dan Tambang

Hingga kini, perusahaan-perusahaan tersebut belum memberikan tanggapan resmi.

Menariknya, beberapa fasilitas sebelumnya beroperasi di atas kapasitas karena tingginya margin dan permintaan.

Baca Juga:
Hypermart (MPPA) Bidik Rights Issue Rp1,2 Triliun, Intip Harga Pelaksanaan dan Rasio HMETD

Kini, pembatasan produksi justru membuat output kembali ke level kapasitas normal. Dampaknya, pasokan nasional tetap besar, tetapi ketersediaan MHP semakin terbatas.

Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusuma, menjelaskan, kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar seperempat pasokan sulfur global, sekaligus memasok 75-80 persen kebutuhan Indonesia.

Gangguan dari wilayah ini langsung mendorong lonjakan harga dan menekan margin produsen.

Harga sulfur spot yang dikirim ke Indonesia kini melonjak di atas USD800 per ton, bahkan sempat menyentuh USD1.000 per ton, dari sekitar USD500 sebelum konflik. Kenaikan tajam ini membuat biaya produksi melonjak dan memicu penyesuaian output.

Arif menambahkan, hingga kini belum ada smelter berteknologi high-pressure acid leach (HPAL) yang menghentikan produksi MHP sepenuhnya. Namun, stok bahan baku di sejumlah pabrik mulai menipis.

“Di beberapa lokasi, persediaan saat ini hanya cukup hingga Mei, bahkan bisa lebih cepat habis,” ujarnya, dikutip Reuters.

Untuk mengatasi kondisi ini, sejumlah produsen mulai mencari alternatif pasokan sulfur.

Namun, opsi tersebut terbatas karena volume yang kecil dan jarak pengiriman yang lebih jauh. Sebagian lainnya mencoba mengimpor asam sulfat langsung, meski menghadapi kendala logistik dan perizinan.

Lonjakan harga sulfur juga mengerek porsi biaya operasional HPAL menjadi sekitar 30-35 persen, dari kisaran normal 25 persen.

Tekanan biaya ini datang di saat industri nikel domestik juga menghadapi kenaikan harga bijih.

Pemerintah sebelumnya memangkas kuota produksi bijih nikel 2026 menjadi 250-270 juta wet metric ton, turun dari 379 juta ton pada 2025.

Di sisi lain, revisi formula harga acuan bijih nikel yang mulai berlaku 15 April diperkirakan akan semakin menekan margin pelaku industri. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Klasemen Terbaru Liga Inggris: MU Terjepit, Leeds Menjauh, Spurs Malah Masuk Zona Degradasi!
• 14 jam lalumedcom.id
thumb
Kepercayaan Konsumen Turun, Mirrae Asset: Pasar Mulai Incar Saham Berbasis Komoditas
• 19 jam laluidxchannel.com
thumb
Video:Kemenkeu Jamin Mesin Pertumbuhan Bekerja-APBN Dikelola Hati-hati
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
BRI Mau Bagi Dividen Rp 209, Catat Tanggalnya
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Ekspor Mobil Buatan Indonesia per Maret 2026 Melemah 20 Persen
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.