Turki mendorong negara-negara sekutunya untuk mulai mempertimbangan masa depan hubungan mereka dengan Amerika Serikat. Hal ini menyusul ancaman negara tersebut keluar dari North Atlantic Treaty Organization (NATO).
Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan mengatakan negara-negara aliansi harus mulai mempertimbangkan skenario berkurangnya peran AS. Menurutnya hal ini menyusul sejumlah sikap yang ditunjukkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Baca Juga: Bela Paus Leo, Presiden Iran Kecam Trump: Dia Sudah Menistakan Agama
“Jika ada penarikan mereka dari beberapa mekanisme aliansi, harus ada rencana transisi agar tidak ada pihak yang dirugikan,” ujarnya.
NATO menurutnya kini harus meningkatkan kemampuan pertahanan mandiri, memperkuat koordinasi internal hingga menyusun skenario tanpa ketergantungan penuh pada AS.
Amerika Serikat menurutnya akan kemungkinan tetap menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi North Atlantic Treaty Organization (NATO) di Ankara. Hal ini karena hubungan personal dari Trump dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Namun, Turki juga tidak akan heran jika sang presiden enggan hadir ataupun bahkan tidak mau ikut dalam pertemuan tersebut. Hal ini menyusul ketegangan dari Amerika Serikat dan NATO.
Hubungan kedua pihak diketahui memburuk dalam beberapa waktu terakhir, dipicu oleh sejumlah isu, antara lain karena rencana pengurangan pasukan hingga penolakan anggota aliansi untuk membantu operasi di Selat Hormuz.
Sebelumnya, North Atlantic Treaty Organization (NATO) dilaporkan menolak terlibat dalam rencana blokade pelabuhan dari Iran. Blokade tersebut diketahui merupakan usual dari Trump.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer menyatakan sikap tegas pemerintahnya soal blokade yang dilakukan oleh Amerika Serika ke Iran. Ia menegaskan meskipun ada tekanan besar, pihaknya tidak akan ikut operasi yang dijalankan oleh Trump.
“Kami tidak mendukung blokade. Kami tidak akan terseret ke dalam perang,” ujarnya.
Sementara Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengungkapkan rencana pembentukan misi multinasional yang bersifat defensif. Misi ini bertujuan mengawal kapal tanker, menjamin keamanan pelayaran dan menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Misi akan dijalankan setelah situasi memungkinkan dan tidak akan melibatkan pihak yang sedang berkonflik, khususnya dari Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah.
Adapun Sekretaris Jenderal North Atlantic Treaty Organization, Mark Rutte menyatakan bahwa aliansi bisa berperan jika seluruh anggota menyepakati pembentukan misi khusus untuk melindungi lalu lintas dari Selat Hormuz.
30 negara dilaporkan siap bergabung dalam misi pengamanan pasca-konflik tersebut, mulai dari Timur Tengah, India, Yunani, Spanyol, Italia, Belanda dan Swedia Pertemuan untuk membahas rencana ini dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat di Paris atau London.
Baca Juga: Iran Puji Keberanian Paus Leo Hadapi Tekanan Amerika Serikat: Suaranya Nyaring Tanpa Rasa Takut
Misi yang dirancang bersifat non-agresif dan bertujuan memberikan rasa aman bagi pelayaran internasional tanpa memperkeruh konflik. Iran dan Amerika Serikat akan diberi informasi mengenai misi tersebut, namun tidak akan dilibatkan secara langsung.





