PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) terpaksa menurunkan kapasitas produksi pabriknya akibat terganggunya pasokan bahan baku imbas perang AS-Israel dengan Iran. Perusahaan investasi asal Korea Selatan ini beroperasi dengan menggunakan bahan baku nafta dan LPG untuk bergerak di industri hulu petrokimia.
Corporate Planning General Manager Lotte Chemical Indonesia, Lee Dae Lo, mengatakan perang di kawasan Timur Tengah membuat operasional pabrik di Cilegon tidak dapat berjalan normal. Saat ini, perusahaan menghadapi kesulitan besar dalam memperoleh bahan baku dan keterbatasan suplai global membuat perusahaan harus menjalankan pabrik dalam kondisi operasi minimum.
“Saat ini, kami sangat kekurangan bahan baku, misalnya nafta dan LPG. Karena itulah kami mengoperasikan pabrik kami dengan operasi minimum,” kata Lee di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Selasa (14/4).
Menurut dia, Lotte Chemical telah berupaya mencari pasokan alternatif dari berbagai negara untuk memastikan perusahaan bisa terus beroperasi.
“Namun kami masih berusaha untuk terus beroperasi demi industri Indonesia, terutama industri hilir,” ujarnya.
Sebelum konflik memanas, hampir seluruh bahan baku LCI dipasok dari kawasan Timur Tengah. Namun kini, perusahaan mulai mengalihkan sumber impor ke negara lain seperti Singapura, Malaysia, hingga Nigeria di Afrika.
Langkah diversifikasi ini dilakukan untuk menjaga kelangsungan operasional, meskipun pasokan yang tersedia masih terbatas dan tidak sepenuhnya mampu menggantikan kebutuhan sebelumnya.
Dia menyebutkan stok bahan baku yang saat ini dikantongi oleh LCI hanya akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan.
“Kami terus berusaha untuk beroperasi meskipun dengan operasi minimum,” tutupnya.





