FAJAR, MAKASSAR – Harapan baru mulai berembus bagi warga kepulauan di Makassar. Setelah sekian lama bergantung pada transportasi laut tradisional, Pemerintah Kota Makassar kini bersiap menghadirkan layanan kapal antar pulau yang lebih terintegrasi.
Di bawah kepemimpinan Munafri Arifuddin, program ini dirancang sebagai “pete-pete laut” modern—transportasi reguler dengan trayek tetap yang menghubungkan pulau ke pulau.
Bagi masyarakat di pulau-pulau seperti Barrang Lompo, Langkai, hingga Lanjukang, kehadiran kapal ini bukan sekadar moda transportasi. Ia adalah akses menuju pendidikan, kesehatan, dan peluang ekonomi yang lebih luas.
Selama ini, warga kerap menghadapi keterbatasan mobilitas. Bahkan dalam kondisi darurat, mereka harus patungan menyewa kapal untuk bisa menyeberang.
Kini, titik terang mulai terlihat. Dukungan dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia membuka peluang penambahan armada kapal bagi Makassar.
Pemkot sendiri telah menyiapkan satu unit kapal sebagai percontohan. Kapal ini akan segera diuji coba sebelum layanan diperluas.
Rute yang dirancang pun cukup strategis, menghubungkan sejumlah pulau utama yang selama ini menjadi pusat aktivitas warga. Meski demikian, tantangan masih ada, terutama terkait keterbatasan dermaga di beberapa pulau.
Kepala Dinas Perhubungan Makassar, Muhammad Rheza, menyebutkan bahwa tidak semua pulau memiliki fasilitas sandar yang memadai. Hal ini menjadi perhatian penting dalam pengembangan layanan ke depan.
Meski frekuensi pelayaran awal masih terbatas, antusiasme masyarakat disebut sangat tinggi. Warga menyambut baik rencana ini, apalagi pemerintah menargetkan layanan bisa dinikmati secara gratis.
Jika berjalan sesuai rencana, layanan ini akan mulai diuji coba pada Mei 2026.
Lebih dari sekadar kapal, program ini menjadi simbol komitmen menghadirkan keadilan pembangunan hingga ke wilayah terluar Kota Makassar—menghubungkan harapan yang selama ini terpisah oleh lautan. (*/)





