Sekolah Rakyat MA 13 Bekasi kini menjadi harapan baru bagi anak-anak dari keluarga miskin yang terpaksa berhenti sekolah.
Program prioritas Presiden Prabowo Subianto ini berhasil menarik anak-anak kurang mampu hingga harus bekerja untuk kembali ke bangku sekolah.
Itulah yang dialami Daifulloh Afif (19 tahun) dan Sayyida Nur Halimah (17 tahun). Sebelum bergabung di Sekolah Rakyat, keduanya harus banting tulang membantu ekonomi keluarga dengan menjadi penjual tahu bulat hingga penjaga warung kopi (warkop).
"Dulu sempat sekolah SMA cuma 7 bulan doang karena kendala biaya. Habis itu saya langsung cari kerja ke mana-mana, pertama kali saya dapat tahu bulat, terus ke bengkel, Shopee, terakhir ke J&T," ujar Daifulloh di Bekasi, Selasa (14/4).
Dia mengaku sangat terbantu dengan fasilitas yang disediakan oleh negara karena tidak lagi membebani orang tuanya yang hanya berjualan pisang keju.
"Alhamdulillah di sini semua enak, sekolah dapat laptop, baju, sepatu, sampai sabun mandi juga dikasih di sini," ungkap Daifulloh.
Senasib dengan Daifulloh, Sayyida yang tinggal di bantaran kali Bekasi juga sempat bekerja sebagai penjaga warkop untuk membantu ibunya yang hanya pedagang kopi keliling.
"Sebelum masuk Sekolah Rakyat, aku sempat kerja jadi waitress nganter-nganterin di warkop. Berangkat jam 7 malam sampai jam 2 malam baru pulang," cerita Sayyida.
Meski memiliki latar belakang ekonomi yang sulit, Sayyida membuktikan semangat belajarnya dengan masuk dalam jajaran ranking lima besar di kelas.
"Guru-guru mengarahkan aku dengan baik yang hasilnya aku masuk ke ranking 5 besar dari 20 siswa. Padahal pas di SMP aku nggak pernah dapat ranking sama sekali," kata Sayyida.
Kini, keduanya memiliki impian besar untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak guna mengangkat derajat ekonomi keluarga mereka di masa depan.
"Harapannya aku bisa dapat pekerjaan yang lebih layak saja sih dibanding kemarin-kemarin. Biar bisa naikkin derajat keluarga dan banggain keluarga," pungkas Sayyida.





