jpnn.com - Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menyampaikan pernyataan emosional di sela-sela persidangannya di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Selasa (14/4).
Setelah tujuh bulan menjalani masa tahanan perkara korupsi, pendiri Gojek ini memilih untuk melakukan introspeksi diri secara mendalam.
BACA JUGA: Heboh Dugaan Pelecehan Seksual oleh 16 Mahasiswa FHUI, Kampus Lakukan Investigasi
Nadiem secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada publik dan jajaran tokoh politik di tanah air.
“Terima kasih teman-teman media. Saya hari ini mau bercerita sedikit. Saya sudah 7 bulan di penjara dan walaupun alhamdulillah saya bersyukur bahwa semua tuduhan tidak terbukti,” ujar Nadiem.
BACA JUGA: Gus Yaqut Siapkan USD 1 Juta untuk Pansus Haji DPR
Dalam pengakuannya, Nadiem menyoroti gaya kepemimpinannya selama menjabat yang dianggap terlalu mendobrak tanpa memedulikan etika birokrasi yang sudah mengakar.
Ia menyadari bahwa keputusannya membawa banyak profesional muda dari luar lingkungan pemerintahan telah memicu gesekan di internal.
BACA JUGA: Willy Ungkap Tawaran Surya Paloh kepada Prabowo, Ternyata
"Saya ingin mengakui ini, bahwa saya masuk mungkin tidak selalu menghormati budaya birokrasi. Saya bawa banyak sekali orang dari luar masuk ke dalam, para profesional muda yang mungkin menciptakan gesekan-gesekan," akunya dengan nada rendah hati.
Nadiem juga blak-blakan menyebut bahwa fokusnya yang terlalu besar pada profesionalisme kerja membuatnya luput dalam menjalankan fungsi sosial dan politik sebagai pejabat negara.
"Saya mungkin kurang santun dalam cara penyampaian saya. Saya kurang menghormati dan kurang sowan kepada tokoh-tokoh, baik masyarakat maupun politik. Saya salah tidak memahami bahwa sebagian dari tugas saya adalah fungsi politik," tambahnya.
Nadiem pun menyadari bahwa ucapan maupun perilakunya di masa lalu mungkin telah menyinggung berbagai pihak.
"Untuk itu saya ingin sekali mohon maaf. Saya ingin mohon maaf sebesar-besarnya kalau ada ucapan-ucapan atau perilaku saya pada saat menjadi Menteri yang tidak berkenan," tuturnya.
Tujuh bulan mendekam di balik jeruji besi dan terpisah dari anak-istri diakui Nadiem sebagai ujian terberat dalam hidupnya.
Namun, ia mengaku tidak patah arang dan mendapat kekuatan dari kisah-kisah tokoh sejarah Indonesia yang pernah mengalami pengorbanan serupa demi negara.
"Hal itu memberikan saya kekuatan, memberikan saya inspirasi, dan itulah alasan kenapa bahkan dalam situasi terpuruk seperti ini, saya masih optimis," tegasnya.
Nadiem menutup pernyataannya dengan menegaskan kecintaannya pada Indonesia dan keyakinannya terhadap supremasi hukum.
"Saya masih mencintai negara saya, saya percaya ujungnya keadilan itu masih menjadi asas dasar dari negara Indonesia yang saya cintai ini," pungkas Nadiem.(mcr8/jpnn)
Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Kenny Kurnia Putra




