MAKASSAR, FAJAR — Secara geopolitik, Sulsel memang strategis. Namun, menjadikannya “kandang gajah” sangat berat.
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menargetkan Sulsel sebagai kandang gajah pada Pemilu Nasional 2029. Istilah itu merujuk pada hasrat menjadikan partai memperoleh suara besar, sehingga berada di barisan atas.
Faktanya, secara nasional, kontribusi Sulsel terhadap suara nasional relatif kecil. Berdasarkan data KPU pada 2024, Sulsel hanya menyumbang 3,26 persen suara atau 6.670.582 pemilih. Secara nasional, jumlah pemilih se-Indonesia adalah 204.807.222 jiwa.
Bahkan jika satu partai merebut semua suara di Sulsel, itu belum mampu mengantarkan menjadi kandang gajah secara nasional. Akan lebih realistis jika menjadikan Jawa Tengah sebagai kandang.
Total daftar pemilih tetap (DPT) Jawa Tengah (Pemilu 2024) sebanyak 28.289.413 jiwa. Secara nasional, persentasenya 13,81 persen. Jika mampu menguasai hampir seratus persen suara di Jawa Tengah, bisa saja satu partai menjadi pemenang pemilu atau setidaknya masuk dalam jajaran atas peraih suara terbanyak.
“Ketika kita bicara skala nasional, suara dari Sulawesi Selatan itu hanya sekitar tiga persen,” ujar pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Publik Indonesia, Ras MD, beberapa waktu lalu.
Dia menilai kehadiran Rusdi Masse (RMS) di PSI setelah meninggalkan Nasdem, tidak serta-merta memberi dampak signifikan secara politik, khususnya di Sulsel. Secara elektorat, kontribusi suara Sulsel dan Pulau Sulawesi terhadap perolehan suara nasional relatif kecil. Se-Sulawesi, suara hanya 10-an juta alias sekitar 5-7 persen.
“Kalau hanya untuk sekadar menunjukkan eksistensi kursi di daerah, (menguasai suara di Sulsel) itu tidak cukup,” sambung Ras MD.
Kondisi ini membuat Sulawesi bukan wilayah penentu dalam kontestasi politik nasional. “Basis utama tetap Pulau Jawa. Jawa Barat, Banten, dan provinsi lain di Jawa jumlah penduduknya di atas 30 juta. Sementara Sulsel hanya sekitar sembilan juta,” jelasnya.
Sejumlah pengalaman partai politik yang mampu mendominasi di beberapa daerah pemilihan di Sulsel, namun tetap gagal melampaui ambang batas parlemen secara nasional. Ia mencontohkan PPP kuat di hampir seluruh dapil di Sulsel, namun tidak lolos parliamentary threshold (PT) alias ambang batas parlemen.
Menurut Ras, PSI memiliki identitas politik serta segmentasi pemilih yang berbeda. Hal ini pula yang membuat kader Nasdem tidak serta-merta merasa kompatibel dengan PSI ketika RMS memutuskan pindah ke PSI beberapa bulan lalu.
“Distribusi perpindahan dari Nasdem ke PSI tidak akan besar. Ideologi PSI dengan Nasdem itu cukup berbeda. Ini menjadi faktor penting yang sering diabaikan,” ujar Ras.
Ia menilai PSI hingga kini belum menunjukkan capaian elektorat yang signifikan, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Dalam dua siklus pemilu terakhir, perolehan kursi PSI dinilai masih sangat terbatas dan hanya bertahan di daerah-daerah tertentu yang menjadi basis tradisionalnya.
Ras tidak menampik bahwa masuknya tokoh-tokoh besar ke PSI, termasuk jika dikaitkan dengan peran Presiden ke-7 RI Joko Widodo sebagai pembina, berpotensi memberi ruang pertumbuhan. Namun, ia mengingatkan bahwa efek elektorat Jokowi di Sulsel tidak lagi sekuat sebelumnya.
Beda Ciri
Sulawesi Selatan memiliki karakter pemilih yang kritis, serupa dengan Sumatera Barat dan Aceh. Dalam konteks ini, menggantungkan elektoral PSI semata pada figur Jokowi dinilai tidak cukup kuat.
“PSI sadar efek Jokowi tidak cukup. Karena itu RMS ditarik, karena dianggap punya daya dongkrak elektoral di Sulsel. Tapi apakah itu akan berbanding lurus dengan capaian PSI ke depan? Itu tidak semudah yang dibayangkan,” tegas Ras MD.
Keberhasilan Nasdem di Sulsel selama ini tidak lepas dari keselarasan antara figur RMS dan mesin partai yang responsif terhadap kondisi lokal.
Sementara itu, Pengamat Komunikasi Politik, Attock Suharto sebelumnya menilai membesarkan PSI tidak semudah membesarkan Nasdem. PSI bukan parpol yang kehadirannya sangat dinantikan publik Sulsel, sehingga butuh kerja ekstra jika partai itu ingin tampil sebagai jawara.
Ia pun menyinggung hasil pemilu 2024 di Sulsel. Untuk tingkatan DPRD Sulsel, misalnya, PSI hanya meraih 40.201 suara atau 0,79 persen suara.
“Uji coba PSI di pemilu 2024 lalu menjadi penanda bahwa partai itu tidak begitu diminati di Sulsel meskipun menjual nama besar Jokowi yang masih berstatus presiden,” tegasnya.
Ketua Harian DPP PSI, Ahmad Ali optimis atas kekuatan PSI di Sulsel. Apalagi dengan bergabungnya sejumlag figur. Sulawesi bisa menjadi kandang gajah seperti Banten dan Jawa Tengah.
“Saya sangat optimis, hari ini saya berani mengatakan bahwa Sulawesi akan menjadi kandang gajah,” tegas Ali akhir Januari 2026. (irm/zuk)





