Penerbitan Obligasi Korporasi Naik 26,97% YoY Sepanjang Kuartal I/2026

bisnis.com
14 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat total penerbitan obligasi korporasi sepanjang periode Januari—Maret 2026 telah tumbuh 26,97% year-on-year (YoY) dibandingkan realisasi yang sama tahun lalu. Bahkan, realisasi penerbitan kali ini melebihi nilai jatuh tempo surat utang pada periode yang sama.

Head of Economic Research Division Pefindo Suhindarto, menerangkan total penerbitan surat utang dari korporasi sepanjang kuartal I/2026 mencapai Rp59,35 triliun, tumbuh dibandingkan Rp46,8 triliun pada Januari—Maret 2025. Sementara itu, nilai jatuh tempo hanya mencapai Rp26,88 triliun pada kuartal I/2026.

”Hingga akhir Maret kemarin, penerbitan surat utang korporasi relatif semarak, dengan perusahaan sejauh ini banyak memanfaatkan yield yang relatif masih rendah selama dua bulan pertama 2026 untuk akhirnya meraih pendanaan di pasar surat utang,” katanya dalam Konferensi Pers Pefindo, Rabu (15/4/2026).

Baca Juga : Pefindo Kantongi Mandat Penerbitan Surat Utang Rp66,28 Triliun per Maret 2026

Pefindo juga mencatat surat utang dengan tenor 5 tahun mendominasi emisi sebesar 29,53% dari total. Mengekor di belakangnya, surat utang dengan tenor 1 tahun kini kian diminati dengan besaran 25,95% dari total, tenor 3 tahun sebesar 22,91%, 7 tahun sebesar 16,36%, dan tenor panjang tidak lebih dari 6%.

Kendati ketegangan geopolitik masih mendorong volatilitas terhadap pasar modal, Suhindarto menilai para korporasi tengah memanfaatkan lingkungan suku bunga yang relatif lebih rendah, dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

”Penerbitan surat utang korporasi memang akhirnya men-generate biaya dana atau kupon yang lebih murah dibandingkan dengan korporasi mengambil pendanaan yang biasa mereka lakukan ke perbankan, sehingga memang akhirnya penerbitan di kuartal pertama ini relatif cukup masih semarak,” katanya.

Selain itu, Pefindo mencatat emiten berperingkat AAA turut mendominasi penerbitan sebesar Rp25,36 triliun, peringkat AA sebesar Rp16 triliun, dan single A senilai 17,99 triliun. Belum ada perusahaan yang menerbitkan surat utang di bawah peringkat single A pada tahun ini.

Dari segi tujuan, penerbitan surat utang pada periode Januari—Maret 2026 didominasi oleh kebutuhan modal kerja sebesar Rp30,91 triliun. Realisasi ini berbeda dibandingkan Rp19,40 triliun untuk kebutuhan modal kerja pada Januari—Maret 2025.

Sementara kebutuhan refinancing kini hanya sebesar Rp12,85 triliun, turun dari Rp25,05 triliun pada periode yang sama 2025. Sisanya, kebutuhan investasi juga meningkat menjadi Rp15,60 triliun pada tahun ini, dibandingkan Rp2,28 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Secara sektoral, industri pembiayaan masih mendominasi penerbitan dengan nilai mencapai Rp10,7 triliun pada Januari—Maret 2026. Mengekor di belakangnya, perusahaan induk menerbitkan surat utang senilai Rp9,2 triliun dan perbankan senilai Rp8,7 triliun.

”Suku bunga sejauh ini memang untuk yield 3 tahun di pasar surat utang korporasi, baik untuk kategori peringkat triple A, double A, single A, maupun triple B, kondisinya sejauh ini, kalau dibandingkan dengan tahun lalu memang masih lebih rendah,” katanya.

Baca Juga : TBS Energi (TOBA) Akan Terbitkan Obligasi Rp175 Miliar

Bersamaan dengan itu, Pefindo cukup optimistis penerbitan anyar surat utang pada tahun ini berada pada besaran Rp154—196,86 triliun, dengan titik tengah pada Rp175,77 triliun. 

Salah satu katalis yang mendorong potensi pencapaian target tersebut adalah nilai jatuh tempo yang jumbo pada periode Mei—Desember 2026 senilai Rp124,12 triliun. Selain itu, pertumbuhan ekonomi domestik juga diprediksi masih solid di sisa tahun ini.

”Dari sisi faktor peluang, kami melihat permintaan investor masih kuat karena di kondisi saat ini, investor justru mencari return yang lebih tinggi di pasar alternatif, termasuk di pasar surat utang korporasi itu sendiri,” katanya.

Meskipun begitu, risiko geopolitik tetap dipertimbangkan sebagai salah satu sentimen yang menghalangi pencapaian target ini. Menurutnya, perang yang berkecamuk di Iran, berisiko membuat pasar lebih fluktuatif dan meningkatkan imbal hasil. Dengan begitu, biaya pendanaan berisiko membengkak lewat penerbitan surat utang.

Belum lagi, nilai tukar rupiah yang telah terdepresiasi mencapai lebih dari Rp17.000 per dolar AS hingga hari ini menjadi risiko lainnya dari pencapaian target tersebut.

”Dari sisi depresiasi nilai tukar juga menjadi faktor negatif bagi yield karena jika depresiasi nilai tukar terus berlanjut, maka transmisi terhadap imported inflation juga bisa terjadi, yang mana kalau inflasinya meningkat, biasanya yield-nya juga akan terdorong naik,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polres Pelabuhan Makassar Gelar Pengajian Bersama Anak Yatim Hafiz Al-Qur’an, Doakan Indonesia Tetap Kuat
• 20 jam laluharianfajar
thumb
Persaingan di Papan Bawah BRI Super League 2025/2026 Semakin Sengit: Berjuang untuk Selamat dari Degradasi
• 16 jam lalubola.com
thumb
Siap-siap! Rekrutmen 30 Ribu Manajer Kopdes Merah Putih Dibuka, Statusnya Pegawai BUMN
• 3 jam laluviva.co.id
thumb
Melinda Aksa : Bangun Kesadaran Lingkungan pada Anak
• 7 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Yamaha Cup Race Bakal Lombakan Kelas Khusus Motor Matic
• 8 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.