FAJAR, JAKARTA — Di tengah panasnya perburuan gelar BRI Super League musim 2025/2026, satu fenomena menarik mulai mengemuka: dominasi pemain-pemain Latin yang bukan hanya tampil konsisten, tetapi juga menjadi pusat permainan tim masing-masing. Dari Jakarta, Makassar, hingga Samarinda, muncul tiga nama yang kini mulai dilirik sebagai aset panas bursa transfer—Allano Lima, Victor Luiz, dan Mariano Peralta.
Pertanyaannya kemudian berkembang: siapa yang paling layak naik level? Dan mungkinkah salah satu dari mereka berlabuh ke Persib Bandung—tim yang saat ini tengah membangun fondasi juara?
Semua berawal dari satu malam di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Persija Jakarta tampil superior saat menaklukkan Persebaya Surabaya dengan skor telak 3-0. Di balik kemenangan itu, Allano Lima tampil sebagai aktor utama.
Satu gol dari titik putih, satu assist untuk Eksel Runtukahu, serta kontrol permainan yang konsisten membuatnya layak menyandang predikat pemain terbaik laga. Namun lebih dari sekadar statistik, Allano menunjukkan kualitas yang lebih dalam—kemampuan membaca ruang, menjaga ritme, dan menjadi penghubung antar lini.
Sebagai winger, ia tidak terpaku di sisi lapangan. Ia kerap masuk ke half-space, membuka jalur kombinasi, sekaligus menjadi ancaman langsung ke gawang. Inilah yang membuatnya berbeda dari pemain sayap konvensional.
Namun jika berbicara soal efisiensi dan produktivitas, nama Mariano Peralta sulit untuk diabaikan.
Bersama Borneo FC Samarinda, Peralta menjelma menjadi mesin kontribusi gol. Dengan torehan 15 gol dan 11 assist hingga pekan ke-27, ia terlibat langsung dalam 26 gol—angka yang menempatkannya di level elite kompetisi.
Keunggulan Peralta terletak pada fleksibilitas perannya. Ia bukan sekadar winger yang menunggu bola di sisi lapangan. Ia aktif melakukan inverted run, menusuk ke tengah, menciptakan overload, dan memecah struktur pertahanan lawan. Dalam sistem modern, pemain seperti ini adalah “game changer”.
Tak heran jika ia menjadi nyawa permainan Pesut Etam—tim yang kini kokoh di papan atas.
Sementara itu, Victor Luiz menawarkan dimensi yang berbeda. Sebagai bek, kontribusinya tidak hanya terbatas pada pertahanan. Ia adalah contoh bek modern—kuat dalam duel, cerdas dalam membaca permainan, dan aktif dalam fase menyerang.
Bersama PSM Makassar, Victor Luiz sering menjadi titik awal serangan dari lini belakang. Umpan-umpan progresifnya membantu transisi tim, sementara keberaniannya naik ke depan memberi variasi tambahan dalam skema ofensif.
Dalam konteks tim besar, pemain seperti ini sangat berharga. Ia memberi keseimbangan—sesuatu yang sering menjadi pembeda antara tim bagus dan tim juara.
Lalu, bagaimana dengan peluang mereka ke Persib?
Saat ini, Bojan Hodak telah membangun tim dengan struktur yang solid dan kedalaman skuad yang baik. Namun jika ingin menjaga dominasi atau bahkan memperkuatnya untuk musim berikutnya, tambahan pemain dengan profil spesifik tetap diperlukan.
Allano Lima bisa menjadi opsi untuk menambah kreativitas di sektor sayap. Ia cocok untuk tim yang mengandalkan penguasaan bola dan kombinasi cepat—gaya yang kini mulai identik dengan Persib.
Mariano Peralta, di sisi lain, adalah solusi instan untuk produktivitas. Jika Persib ingin meningkatkan efektivitas di lini depan, ia adalah kandidat paling ideal. Statistiknya berbicara sendiri, dan kemampuannya beradaptasi dalam berbagai situasi membuatnya menjadi aset jangka pendek sekaligus panjang.
Sementara Victor Luiz lebih cocok sebagai penguat struktur. Ia bukan pemain yang selalu mencuri perhatian, tetapi kehadirannya membuat tim lebih stabil—terutama dalam menghadapi tekanan dari lawan-lawan besar.
Namun, transfer bukan hanya soal kebutuhan teknis.
Ada faktor lain seperti harga, kontrak, hingga kecocokan dengan filosofi tim. Dan dalam banyak kasus, pemain yang sedang berada di puncak performa justru menjadi yang paling sulit didapatkan.
Di sinilah dinamika menarik itu muncul.
Ketiga pemain ini berada dalam fase karier yang tepat: tampil konsisten, menjadi kunci di tim masing-masing, dan mulai dilirik klub yang lebih besar. Mereka bukan lagi sekadar pemain asing biasa—mereka adalah diferensiasi.
Pada akhirnya, siapa yang paling layak ke Persib?
Jika berbicara kebutuhan mendesak, Peralta adalah jawaban paling logis. Jika berbicara keseimbangan tim, Victor Luiz menawarkan stabilitas. Dan jika yang dicari adalah kreativitas dan fleksibilitas, Allano Lima adalah pilihan yang menarik.
Namun satu hal yang pasti—siapa pun yang berhasil mendapatkan salah satu dari trio Latin ini, tidak hanya membeli pemain.
Mereka membeli pengaruh.





