FAJAR, SURABAYA –Di balik ambisi besar Persebaya Surabaya untuk tetap kompetitif di papan atas BRI Super League musim 2025/2026, ada satu persoalan mendasar yang perlahan mengemuka: ketergantungan berlebih pada satu nama di bawah mistar, Ernando Ari.
Dalam sepak bola modern, posisi penjaga gawang bukan sekadar benteng terakhir. Ia adalah titik awal dari banyak skema permainan—mengatur distribusi bola, membaca tekanan lawan, hingga menjadi pemimpin dalam organisasi lini belakang. Dan dalam konteks Persebaya, hampir seluruh fungsi itu terpusat pada Ernando.
Masalahnya muncul ketika ia absen.
Ketiadaan Ernando bukan sekadar kehilangan satu pemain, tetapi kehilangan sistem yang sudah terbangun di sekelilingnya. Hal ini terlihat jelas saat Persebaya menghadapi Persija Jakarta. Meski kalah, pertandingan itu justru membuka ruang evaluasi yang lebih dalam—tentang kualitas pelapis dan pentingnya kompetisi internal di posisi kiper.
Di tengah tekanan tersebut, Andhika Ramadhani muncul sebagai sosok yang memberi harapan. Dipercaya tampil sejak menit awal, ia menunjukkan ketenangan yang tidak mudah dimiliki kiper muda. Beberapa penyelamatan krusial—termasuk saat memotong cutback Allano Souza dan menggagalkan peluang satu lawan satu dari Eksel Runtukahu—menjadi bukti bahwa ia memiliki refleks dan insting yang menjanjikan.
Secara statistik, tiga penyelamatan penting, dua intersep, dan distribusi bola yang cukup rapi memperlihatkan bahwa Andhika tidak sekadar “mengisi kekosongan”. Ia berusaha menjalankan peran kiper modern—terlibat dalam build-up, menjaga ritme, dan tetap tenang di bawah tekanan.
Namun di sinilah letak persoalan utamanya: kualitas pelapis belum benar-benar setara.
Dalam tim dengan ambisi besar, posisi kiper idealnya memiliki kompetisi sehat. Bukan sekadar ada pengganti, tetapi ada tekanan internal yang membuat setiap pemain tampil di level tertinggi. Tanpa itu, risiko stagnasi menjadi nyata.
Ketergantungan pada satu kiper utama menciptakan ilusi keamanan—hingga momen ketika ia tidak tersedia.
Situasi ini mengingatkan pada pendekatan yang pernah diterapkan Bernardo Tavares saat menangani PSM Makassar. Di sana, ia memiliki opsi kiper yang lebih kompetitif, termasuk sosok Reza Arya Pratama—penjaga gawang yang bukan hanya pelapis, tetapi benar-benar pesaing.
Kehadiran kiper seperti Reza memberi dua dampak sekaligus. Pertama, meningkatkan kualitas latihan karena adanya persaingan. Kedua, memberikan jaminan stabilitas ketika rotasi atau cedera terjadi. Tim tidak kehilangan identitas permainan hanya karena pergantian pemain di satu posisi.
Inilah yang tampaknya belum sepenuhnya dimiliki Persebaya saat ini.
Andhika memang menunjukkan potensi. Ia memiliki refleks, keberanian, dan ketenangan yang menjadi fondasi penting bagi seorang kiper masa depan. Namun dalam konteks kompetisi elit, potensi saja tidak cukup. Dibutuhkan konsistensi, pengalaman, dan—yang tak kalah penting—tekanan dari sesama rekan setim untuk terus berkembang.
Tanpa itu, perkembangan bisa melambat.
Menghadapi Madura United FC di Stadion Gelora Bung Tomo, Persebaya kembali berada dalam situasi yang menguji. Jika Ernando belum pulih, Andhika kemungkinan besar kembali menjadi pilihan utama. Ini adalah peluang sekaligus ujian.
Peluang untuk membuktikan bahwa ia layak lebih dari sekadar pelapis.
Namun di sisi lain, ini juga menjadi cerminan kebutuhan tim secara struktural. Persebaya tidak bisa terus bergantung pada satu nama di posisi krusial seperti kiper. Mereka membutuhkan kedalaman—bukan hanya untuk mengantisipasi cedera, tetapi juga untuk menjaga standar performa tetap tinggi sepanjang musim.
Sepak bola modern menuntut kompetisi di setiap lini.
Tim-tim besar tidak hanya memiliki pemain inti yang kuat, tetapi juga pelapis yang mampu masuk tanpa mengubah kualitas permainan secara signifikan. Di posisi kiper, hal ini bahkan lebih krusial karena kesalahan kecil bisa langsung berbuah gol.
Dalam konteks itu, Persebaya berada di titik refleksi.
Apakah mereka akan terus bertumpu pada Ernando Ari sebagai poros utama, atau mulai membangun ekosistem persaingan yang lebih sehat di bawah mistar?
Karena pada akhirnya, musim tidak dimenangkan oleh 11 pemain terbaik saja—tetapi oleh seluruh skuad yang siap menjawab setiap kemungkinan.





