Luapan Danau Sentani Ganggu Aktivitas Warga, 24 Kampung Terdampak

kompas.id
12 jam lalu
Cover Berita

JAYAPURA,KOMPAS - Selama lebih dari dua pekan terakhir, warga pesisir Danau Sentani di Kabupaten Jayapura, Papua, berjibaku dengan luapan air danau. Kondisi ini menganggu aktivitas pendidikan, ekonomi, hingga pariwisata setempat.

Sejak akhir Maret 2026, debit air Danau Sentani meningkat hingga 1 meter dan berdampak pada 24 kampung di pesisir danau.

Di sekitar Dermaga Yahim, Distrik Sentani, misalnya, ketinggian air naik sekitar 50 sentimeter hingga merendam badan dermaga. Kondisi ini mengganggu aktivitas warga, termasuk pasar tradisional di sekitar dermaga yang kini hanya diisi sebagian pedagang.

“Padahal, biasanya batas air pasang itu kurang dari setengah meter atau masih di bawah badan dermaga,” kata Abraham (52), penyedia jasa angkutan perahu, Rabu (15/4/2026).

Situasi serupa terjadi di Kampung Yoboi, Distrik Sentani. Luapan air danau merendam kebun sagu sehingga membuat warga mesti memindahkan aktivitas panen sagu.

“Batang sagu kami alirkan sampai ke dekat dermaga. Setelah itu, warga baru tokok sagu di dermaga itu,” ucap John Mamberamo (37), warga setempat.

Baca JugaPVMBG: Sentani Berada di Jalur Banjir Bandang
Kegiatan wisata

Pegiat pariwisata Danau Sentani, Billy Tokoro, mengatakan, luapan air danau ikut berdampak pada pariwisata. Sejumlah agenda pariwisata terpaksa harus diundur. Warga kini fokus memperbaiki sejumlah infrastruktur kampung.

“Dulu, kata orang tua kampung, fenomena kenaikan seperti hal yang lumrah. Namun sekarang ini, siklusnya semakin sering terjadi dan dampak semakin besar,” ujar Billy.

Menurut Billy, musibah kali ini harus menjadi pengingat kepada berbagai pihak. Selain dampak dari iklim, ini juga merupakan akibat dari kerusakan lingkungan.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jayapura Lenny Pasulu menyampaikan, luapan air sangat berdampak bagi aktivitas warga pesisir. Luapan air menggenang rumah di permukaan air dan daratan pesisir rendah.

Baca JugaWarga Sentani Dibayangi Ancaman Jalur Longsor

Sebagian besar rumah-rumah di pesisir Danau Sentani berdiri di atas air dengan ketinggian 1-2 meter di atas permukaan air. Oleh karena itu, luapan air menggenang sebagian besar rumah pesisir danau.

“Sejumlah kampung yang cukup parah seperti Yoboi (Distrik Sentani) dan Dondai (Distrik Waibu). Kami belum memiliki alat pengukur ketinggian air. Mungkin, kenaikannya ini sekitar 1 meter atau lebih,” ujar Lenny.

Resapan berkurang

Lenny mengungkapkan, luapan Danau Sentani sudah terjadi beberapa kali. Sebelumnya, musibah juga pernah terjadi terjadi pada 2019 yang diikuti banjir bandang.

Salah satu faktor meningkatnya debit air Danau Sentani disebut karena curah hujan tinggi. Kiriman air dari hulu danau yang mayoritas berasal dari Pegunungan Cycloop meningkat.

“Volume yang turun melalui delapan aliran, debitnya semakin meningkat. Apalagi daerah resapan air semakin berkurang disebabkan berbagai aktivitas masyarakat dan perkembangan kota,” ucap Lenny.

Di sisi lain, satu-satunya pembuangan air danau di Kali Jaifuri, Sentani Timur, kewalahan menghadapi luapan air. Apalagi setelah ditelusuri, Kali Jaifuri mengalami penyempitan.

Aliran terhambat oleh sejumlah pohon-pohon tumbang serta berbagai limbah masyarakat. “Jadi ini akumulasi dari iklim dan kegiatan manusia di alam dan buang sampah sembarang,” ujarnya.

Lenny menyampaikan, pada Jumat (10/4/2026), berbagai unsur dari Pemerintah Kabupaten Jayapura dan elemen masyarakat melakukan kerja bakti pembersihan kali Jaifuri.

Volume yang turun melalui delapan aliran, debitnya semakin meningkat. Apalagi daerah resapan air semakin berkurang disebabkan berbagai aktivitas masyarakat dan perkembangan kota.

Baca JugaAnomali Iklim Terus Berlangsung, Waspadai Potensi Bencana Banjir Bandang di Jayapura

“Saat ini, volume airnya masih tinggi. Namun, ada beberapa kepala kampung melapor volume air sedikit menurun,” katanya.

Sementara itu, lanjut Lenny, saat ini belum bisa dipastikan kapan air akan surut. Apalagi berdasarkan koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan masih akan mengguyur Jayapura selama April 2026.

“Berbagai kemungkinan masih bisa terjadi. Tetapi kami berharap situasinya tidak memburuk, apalagi ke depan hujan kemungkinan dalam intensitas sedang,” ucapnya.

Selain itu, saat ini bantuan bahan makanan terus disalurkan kepada masyarakat. Pada Selasa (14/4/2026), Pemkab Jayapura telah menyalurkan 30 ton beras dan bahan pokok lainnya kepada warga terdampak.

Bupati Jayapura Yunus Wonda menyampaikan, penanganan masyarakat khususnya yang menjadi korban meluapnya air di Danau Sentani menjadi prioritas pemerintah daerah setempat di tengah adanya efisien anggaran.

"Dalam kondisi ini masyarakat sulit mencari nafkah sehingga pemerintah hadir untuk meringankan beban mereka terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar," katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Trump: Perundingan dengan Iran bisa dilanjutkan dua hari ke depan
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
KPK Telusuri Aset Tersangka Pemerasan TKA
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
2 Warga Hanyut Saat Banjir Terjang Banjaran Bandung, 1 Orang Tewas
• 2 jam laludetik.com
thumb
BPD Hipmi Bengkulu Dukung Figur dengan Gagasan Penguatan Ekosistem Usaha
• 12 jam lalurepublika.co.id
thumb
Menag Apresiasi Peran MUI-Ormas Islam: Mitra Strategis, Penjaga Keseimbangan
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.