FAJAR, MAKASSAR– Pernahkah Anda membayangkan berselancar di internet tanpa harus pusing memilah iklan atau hasil pencarian yang tidak relevan? Cukup katakan apa yang Anda mau, dan biarkan kecerdasan buatan (AI) yang bekerja.
Bos-bos besar teknologi seperti Satya Nadella (CEO Microsoft) sering sesumbar bahwa masa depan ada di tangan AI. Katanya, AI akan segera bisa menggunakan komputer sebaik manusia, bahkan lebih jago. Namun, benarkah hari itu sudah tiba?
Seperti dilansir The Verge, sebuah eksperimen terbaru yang menguji lima peramban (browser) bertenaga AI populer—Chrome (Gemini), Edge (Copilot), ChatGPT Atlas, Perplexity Comet, dan The Browser Company Dia—menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan.
Alih-alih mempermudah hidup, browser AI ini ternyata masih punya satu penyakit kronis yang sama: Mereka masih butuh “disuapi” perintah yang sangat detail agar tidak salah jalan.
Niatnya Cari Diskon Sepatu, Hasilnya Malah Zonk?
Bayangkan Anda ingin mencari sepatu New Balance terbaik untuk jalan kaki 20.000 langkah sehari tanpa terjebak iklan terselubung dari influencer. Secara teori, Anda tinggal meminta browser AI mencarikan penawaran terbaik.
Namun kenyataannya, menggunakan browser AI saat ini tidak seperti mengobrol dengan asisten pintar, melainkan lebih seperti mengajari anak kecil. Jika perintah (prompt) Anda tidak sempurna, hasilnya pun akan berantakan.
Berbeda dengan Google Search yang sudah sangat pintar menebak maksud Anda meski ada salah ketik, AI justru menuntut ketepatan bahasa. Anda harus berpikir ekstra keras hanya untuk merangkai kalimat perintah yang benar.
Penyakit ‘Gagal Paham’ di Kotak Masuk Email
Salah satu pengujian yang paling nyata adalah saat diminta mengelola email. Saat diminta “rangkum email penting,” AI hanya memberikan daftar harafiah subjek email tanpa tahu mana yang benar-benar mendesak bagi si pengguna.
Bahkan ketika diperintah mencari email berdasarkan “urgensi,” AI seringkali tertipu oleh kata-kata pemasaran seperti “Penting!” atau “Eksklusif!”. AI gagal membedakan mana pesan yang benar-benar tulus dari kolega dan mana yang sekadar scam atau sampah iklan (spam).
AI cenderung menganggap kata kunci sebagai kebenaran mutlak, padahal dalam dunia nyata, banyak email sampah yang justru menggunakan kata-kata “Urgent” agar diklik.
Kesimpulan: Jangan Buang Browser Lama Anda!
Meskipun fitur-fitur seperti Comet dari Perplexity atau Atlas dari ChatGPT menawarkan mode “agentic” (AI melakukan tugas untuk Anda), kepercayaan menjadi kendala utama. Apakah Anda berani membiarkan AI memasukkan barang ke keranjang belanja atau melakukan reservasi tanpa pengawasan ketat?
Untuk saat ini, kesimpulannya jelas: Browser AI belum benar-benar siap menggantikan kejelian manusia. Mereka mungkin bisa merangkum teks panjang, tapi untuk urusan memahami konteks dan nuansa kehidupan Anda, AI masih harus banyak belajar.
Jadi, bagi Anda yang berharap bisa “ongkang-ongkang kaki” dan membiarkan AI mengurus segalanya di internet, sepertinya Anda harus bersabar sedikit lagi. Hari itu bukan hari ini! (*Nin)





