Laba MIND ID Anjlok 27,8% di 2025, Bagaimana Kinerja TINS, PTBA, INCO dan ANTM?

katadata.co.id
10 jam lalu
Cover Berita

Laba holding pertambangan dekapan pemerintah Mining Industry Indonesia atau MIND ID sepanjang 2025 tercatat anjlok 27,86% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 29 triliun sepanjang 2025. Padahal pada laba 2024 lalu, torehan laba MIND ID sebesar Rp 40,2 triliun atau naik 46% yoy.

Laporan itu berdasarkan kinerja keungan unaudit yang disampaikan oleh Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Senin (13/4). 

Seiring dengan lesunya laba, Maroef juga menyebut jumlah pendapatan holding mencapai Rp 159 triliun, naik 9,5% yoy dari periode sebelumnya yang mencapai Rp 145,2 triliun. Sementara itu EBITDA perusahaan sebesar Rp 42 triliun atau 3% di atas target. 

Saat ini MIND ID memiliki entitas pertambangan yang menopang kinerja perusahaan. Di antaranya PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Timah Tbk (TINS), PT Freeport Indonesia, dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). 

Apabila menilik kinerja keuangan entitas MIND ID yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), mayoritas membukukan kinerja positif. Berikut rinciannya: 

Kinerja PT Timah (TINS)

Emiten pertambangan PT Timah Tbk (TINS) meraup laba sekitar Rp 1,2 triliun sepanjang 2025. Adapun sepanjang 2024, TINS mencatatkan laba bersih mencapai Rp 1,19 triliun atau melonjak 364% yoy dari kerugian Rp 449,67 miliar pada 2023. 

“Keuntungan bersih dari perusahaan kami Rp 1,1 atau mendekati Rp 1,2 triliun untuk tahun 2025,” kata Direktur Utama Timah, Restu Widiyantoro dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (31/3).  

Tak hanya itu, Restu juga mengatakan pendapatan Timah sekitar Rp 12 triliun. Apabila menilik tahun buku 2024, TINS meraup pendapatan sebesar Rp 10,86 triliun. Alhasil jika dikalkulasikan perusahaan mencatatkan kenaikan pendapatan hingga 10,5% year on year (yoy).  

Meski begitu, di tengah kenaikan laba TINS produksi bijih timah sepanjang 2025 turun 4% yoy menjadi 18.635 ton dari 2024 sebebanyak 19.473 ton. Lalu produksi logam timah juga anjlok 6% yoy menjadi 17.815 metrik ton dari produksi 2024 sebesar 18.915 metrik ton. 

Pada saat bersamaan penjualan logam timah juga merosot 5% menjadi 16.634 metrik ton dari sebelumnya 17.507 metrik ton. Restu menyampaikan secara umum kinerja korporasi sepanjang 2025 belum sepenuhnya mencapai target.

Aneka Tambang (ANTM)

Berdasarkan laporan keuangan 31 Desember 2025, emiten pertambangan pelat merah tersebut mencatatkan pendapatan sebesar Rp 84,64 triliun. Angka itu naik 22,3% dibandingkan pendapatan Rp 69,19 triliun yang diraup ANTM pada 2024.

Kenaikan pendapatan terutama ditopang oleh penjualan emas yang mencapai Rp 66,47 triliun pada 2025, meningkat dari Rp 57,56 triliun pada tahun sebelumnya. Penjualan bijih nikel juga melonjak signifikan menjadi Rp 12,75 triliun dari Rp 5,37 triliun pada 2024. Selain itu, kontribusi dari produk alumina dan bijih bauksit turut meningkat secara tahunan. 

Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, Perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 7,21 triliun pada 2025, melonjak hampir 100% dibandingkan laba bersih Rp 3,65 triliun pada 2024.

Kinerja Vale Indonesia (INCO)

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) meraup laba hingga US$ 76,06 juta atau sekitar Rp 1,26 triliun sepanjang tahun 2025 (asumsi kurs 16.672 per dolar AS). Torehan itu melonjak 31,69% year on year (yoy) dari periode yang sama sebelumnya sebesar US$ 57,76 juta atau sekitar Rp 963 miliar. 

Berdasarkan laporan keuangannya, Vale membukukan pendapatan sebesar US$ 990,19 juta atau sekitar Rp 16,51 triliun sepanjang 2025. Angka itu meningkat 4% secara tahunan (yoy) dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang sebesar US$ 950,38 juta atau sekitar Rp 15,84 triliun. 

Capaian pendapatan perusahaan ditopang dari kenaikan tingkat payability nikel matte yang mulai berlaku sejak Juli tahun lalu dan volume pengiriman yang lebih tinggi. Secara triwulanan, Vale membukukan pendapatan sebesar US$ 284,8 juta atau naik 2% dibandingkan kuartal sebelumnya, didorong oleh pemulihan harga nikel secara moderat. 

Sepanjang 2025, Vale mencatat harga realisasi rata-rata nikel matte sebesar US$12.157 per ton, turun 7% dibandingkan US$13.086 per ton pada tahun sebelumnya. Adapun produksi nikel dalam matte Vale Indonesia mencapai 72.027 metrik ton (t). 

Realisasi tersebut meningkat dibandingkan produksi 2024 sebesar 71.311 t. Secara triwulanan, perusahaan memproduksi 17.052 t nikel matte pada kuartal IV 2025. Angka ini turun sekitar 12% dibandingkan kuartal III 2025 yang mencapai 19.391 t. 

Kinerja Bukit Asam (PTBA)

Namun, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan laba bersih Rp 2,92 triliun sepanjang 2025. Capaian tersebut anjlok 42,74% dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada 2024 sebesar Rp 5,10 triliun. 

Merujuk laporan kinerja keuangan perseroan tahun 2025, PTBA mencatatkan pendapatan yang turun tipis menjadi Rp 42,65 triliun dari Rp 42,76 triliun secara tahunan atau year on year (YoY). Porsi penjualan sampai dengan akhir Desember 2025 bersumber dari penjualan domestik sebesar 54%. 

Sementara sisanya 46% merupakan ekspor. Pada akhir periode 2025, lima negara tujuan ekspor terbesar PTBA ditempati oleh Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina. Meski pendapatan perseroan turun tipis, beban pokok pendapatan perseroan justru menebal menjadi Rp 36,39 triliun dari Rp 34,56 triliun secara YoY. 

Beban umum dan administrasi perseroan juga naik menjadi Rp 2,34 triliun dari Rp 2,07 triliun. Selain itu, beban penjualan dan pemasaran naik menjadi Rp 812,60 miliar dari Rp 789,01 miliar secara tahunan. 

Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail mengatakan, kinerja perseroan sepanjang Tahun Buku 2025 tercermin dari pertumbuhan volume produksi dan penjualan yang tetap positif. 

“Selain itu, realisasi belanja modal yang optimal menjadi fondasi penting dalam mendukung keberlanjutan serta pertumbuhan kinerja operasional perseroan ke depan,” kata Arsal dalam keterangannya, dikutip pada Rabu (1/4).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
OJK Rilis 2 Strategi Khusus Pasar Modal RI, Ini Isi Lengkapnya
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
PDIP Minta 16 Pelaku Grup Chat Mesum FHUI Ditindak Tegas: Tak Ada Kompromi
• 15 jam laludetik.com
thumb
DPR Minta Pemerintah Tak Jadikan BPKH sebagai Opsi Talangi Kenaikan Harga Penerbangan Haji 2026
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Prabowo dan Macron Bertemu 2 Jam Bahas Energi-Ekonomi
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
Jadwal Piala AFF U-17 2026 Malam Ini: Thailand Bisa Dahului Timnas Indonesia U-17 Lolos ke Semifinal
• 17 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.